MITRA
Ayo Ke Ternate
sample52

Hampir 1000 Pelari Meriahkan Fort to Fort Fun Run Rakernas JKPI di Ternate

Ayo Ke Ternate
sample52

Rakernas JKPI Hampir Tuntas, UMKM Ternate Panen Cuan

Sekadau
sample52

Menangis Histeris di Lumbung Padi

Sekadau
sample52

Launching CorpU Sekadau, Wabup Ingatkan,ASN Bisa Mengembangkan Diri Tanpa Harus Lewat Diklat

BERITA TERKINI

Kabut Asap Menebal, DPRD Sekadau Imbau Warga Pakai Masker

SEKADAU, OT - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai dirasakan di sejumlah wilayah Kalimantan Barat. Masyarakat diminta waspada, terutama saat beraktivitas di luar rumah.

NASIONAL

Kabut Asap Menebal, DPRD Sekadau Imbau Warga Pakai Masker

SEKADAU, OT - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai dirasakan di sejumlah wilayah Kalimantan Barat. Masyarakat diminta waspada, terutama saat beraktivitas di luar rumah.

Anggota DPRD Kabupaten Sekadau dari Fraksi Grindara, Harris Winoto, mengimbau warga menggunakan masker untuk mengurangi dampak asap terhadap kesehatan.

“Sekarang tingkat udara akibat asap ini sudah membuat masyarakat khawatir. Kami mengimbau masyarakat menggunakan masker, khususnya ketika berada di luar rumah,” ujar Harris.

Dia juga meminta pemerintah daerah melalui dinas terkait lebih gencar mengingatkan masyarakat agar menggunakan masker selama kondisi udara masih dipengaruhi kabut asap.

“Kita berharap seluruh dinas yang terkait dapat mengkampanyekan penggunaan masker,” katanya.

Menurut Harris, jika kondisi ini tidak diantisipasi, gangguan kesehatan akibat asap bisa berdampak pada pelayanan di puskesmas maupun rumah sakit.

“Kalau masker tidak digunakan, ini akan berakibat juga kepada puskesmas atau rumah sakit dan berpotensi menciptakan masalah baru,” tegasnya.

Dia turut mengingatkan warga, terutama yang harus beraktivitas di luar rumah, agar menggunakan masker saat kabut asap masih menyelimuti wilayah Kalbar.

 


Pangkas TKD, Jojau Kesultanan Tidore Beri ''Warning'' ke Pemerintah Pusat

TIDORE, OT- Kesultanan Tidore menegaskan komitmennya terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tetap final. Namun, pemerintah pusat diminta tidak mengabaikan sejarah dan rasa keadilan masyarakat Tidore dalam menetapkan kebijakan pembangunan, termasuk pemangkasan dana Transfer ke Daerah (TKD).

Hal itu disampaikan Ishak Naser, Jojau Kesultanan Tidore, saat menjadi narasumber dalam Dialog Publik Kwatak Bacarita Season 2 dengan tema “Menakar Visi Misi Pemkot Tidore dan Imbas Pemangkasan Dana TKD”, yang digelar di halaman bekas Kantor Gubernur Irian Barat, di Tidore, Rabu (12/8/2026).

Forum tersebut menjadi ruang untuk membahas kemampuan Pemerintah Kota Tidore Kepulauan menjalankan visi dan misi pembangunan di tengah tekanan fiskal akibat pemangkasan dana transfer dari pemerintah pusat. Forum Kwatak Bacarita Season II. 

Dalam dialog, Ishak menilai persoalan pemangkasan TKD tidak semata- mata berkaitan dengan angka dalam APBD. Menurutnya, kebijakan fiskal memiliki hubungan langsung dengan pelaksanaan otonomi daerah dan kemampuan pemerintah memenuhi kebutuhan masyarakat.

Dia menegaskan, desentralisasi kewenangan pemerintahan harus diikuti dengan desentralisasi fiskal. “Bagaimana bisa anda mendesentralisasi kekuasaan pemerintahan tanpa diikuti dengan mendesentralisasi fiskal? Otoritas fiskal itu melekat pada pemerintah,” tegasnya. 

Menurutnya, daerah tidak akan mampu menjalankan kewenangan secara maksimal apabila ruang fiskalnya terus dipersempit. Kondisi tersebut berpotensi menghambat pembangunan, termasuk sektor pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Ishak juga mengaitkan persoalan fiskal saat ini dengan perjalanan sejarah Tidore. Dia meminta pemerintah pusat memahami sejarah Tidore secara utuh sebelum menetapkan kebijakan yang berdampak terhadap masyarakat.

“Orang tidak memahami sejarah itu tidak akan bisa mewujudkan keadilan,” ujarnya.

Tokoh adat Tidore itu menegaskan, sikap Kesultanan Tidore terhadap NKRI sudah jelas dan tidak perlu dipertanyakan. Karena sikap Kesultanan terikat pada NKRI itu sudah jelas. Tidak ada lagi pembahasan tentang itu. Tetapi menggugat pemerintah Republik Indonesia itu persoalan baru. 

Menurut Ishak, kritik terhadap pemerintah bukan berarti keinginan untuk keluar dari NKRI. Kritik tersebut merupakan bentuk pengingat ketika pemerintah dinilai keliru dalam memahami sejarah maupun menetapkan kebijakan.

“Kalau pemerintah tidak melakukan kesalahan dan tidak salah menginterpretasi sejarah sehingga tidak keliru dalam membuat kebijakan, kita tidak akan kritik. Tapi kalau salah, pasti kita kritik,” tegasnya.

Dalam konteks pemangkasan TKD, Ishak menilai pemerintah perlu mempertimbangkan kembali dampaknya terhadap daerah. Ia khawatir keterbatasan fiskal membuat pemerintah daerah semakin sulit menggerakkan pembangunan sesuai kebutuhan masyarakat.

“Kondisi ini mau diulangi lagi dengan sekarang di TKD. Daerah tidak bisa bergerak menurut kemajuan pembangunan, sementara daerah lain menikmati,” ujarnya.

Karena itu, dia meminta pemerintah pusat mengembalikan kapasitas fiskal daerah agar potensi ekonomi Tidore dapat dikonversi menjadi kekuatan pembangunan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Kembalikan TKD. Kita ambil sumber daya alam, kita olah menjadi sumber daya manusia yang handal, serta membangun pendidikan,” katanya.

Ishak juga mengingatkan pemerintah agar tidak menganggap remeh dampak kebijakan yang dinilai tidak memberikan rasa keadilan kepada masyarakat.

“Kita bangsa yang punya martabat. Sangat kuat menahan lapar, tapi Anda tidak akan tahu bahasa apa yang muncul dari seorang yang lapar. Itu peringatan saya,” tegasnya.

Jojau Kesultanan Tidore juga menegaskan ke Presiden Prabowo, kalau Indonesia sudah bosan dengan Tidore, tolong disampaikan secara baik- baik, Agar Tidore juga akan keluar dengan baik- baik.

 


NUSANTARA
VIDEO
BISNIS
TERPOPULER
EDUKASI
POLITIK
BOLA
LOKAL
TRAVEL