Di tengah dinamika sosial dan keberagaman masyarakat Maluku Utara, nama Abuya Dr. (HC) Habib Abubakar bin Hasan Alatas Azzabidi bukanlah sosok asing. Sebagai Mufti Besar Kesultanan Moloku Kieraha, beliau telah lama menjadi figur sentral dalam lanskap keagamaan dan kemanusiaan di Kota Ternate dan sekitarnya.
Namun, yang membuatnya menonjol bukan semata jabatan atau gelar, melainkan corak dakwah yang ia bangun: dakwah yang berakar pada kemanusiaan.
Dakwah yang Merangkul, Bukan Menghakimi
Abuya dikenal dengan sikap tawadhu, sederhana, dan rendah hati. Ia tidak membangun jarak dengan umat, tidak menciptakan sekat antara ulama dan masyarakat akar rumput. Justru sebaliknya, ia memilih menyatu, berbaur, dan merangkul semua kalangan.
Pendekatan ini bukan sekadar gaya personal, tetapi strategi dakwah yang sadar dan terencana: menjauhkan diri dari elitisme dan eksklusivisme, sekaligus meneguhkan inklusivisme. Dalam konteks masyarakat majemuk seperti Maluku Utara, pendekatan seperti ini menjadi relevan dan mendesak.
Selama puluhan tahun, kiprah dakwah Abuya dapat dipetakan dalam tiga pilar klasik: Dakwah bil Lisan, Dakwah bil Hal, dan Dakwah bil Qalam.
Melalui Dakwah bil Lisan, ia mengisi pengajian dan ceramah dengan materi tafsir, fikih, dan tasawuf. Ia juga mengabdi sebagai pengajar dan pembina di Pondok Pesantren Qotrunnada Citayam Depok—pesantren yang turut membentuk fondasi intelektual dan spiritualnya.
Namun, yang paling kuat membentuk identitas dakwahnya adalah Dakwah bil Hal—dakwah melalui tindakan nyata.
Kemanusiaan sebagai Orientasi Dakwah
Abuya menjadikan aksi sosial sebagai bahasa dakwah yang paling universal. Bantuan biaya pendidikan, pengobatan kesehatan, hingga distribusi beras ratusan ton selama puluhan tahun telah menjangkau ribuan orang tanpa memandang suku, ras, maupun agama.
Di bulan Ramadhan, intensitas kepedulian itu mencapai puncaknya. Buka puasa bersama, makan malam, hingga sahur bersama ribuan jemaah menjadi pemandangan yang nyaris rutin. Lorong Majelis Ta’lim Khairunnisa dan kediamannya seolah tak pernah sepi, menjadi simpul pertemuan antara spiritualitas dan solidaritas sosial.
Kepedulian itu bahkan melampaui sekat-sekat ritual keagamaan. Ia menginisiasi kegiatan donor darah yang menjangkau berbagai daerah seperti Makassar, Banjarbaru, Palu, Manado, dan Gorontalo. Ia menyalurkan zakat dan bantuan miliaran rupiah kepada penderita kusta, buruh pelabuhan, tenaga kebersihan, dan kelompok rentan lainnya di berbagai kabupaten/kota di Maluku Utara.
Tak berhenti di sana, ia juga responsif terhadap bencana alam: banjir, longsor, kebakaran, hingga letusan gunung berapi. Di sinilah dakwah menemukan maknanya yang paling konkret—menjadi jawaban atas penderitaan.
Prinsip yang dipegangnya sejalan dengan sabda Nabi: “Khairunnas anfa’uhum linnas”—sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Ia juga menggemakan pesan Ali bin Abi Thalib tentang dua bentuk persaudaraan: persaudaraan karena agama dan persaudaraan karena kemanusiaan.
Dalam perspektif ini, kemanusiaan bukanlah sekadar nilai tambahan dalam dakwah, tetapi fondasi utama.
Inspirasi Universal dan Moderasi Beragama
Komitmen kemanusiaan Abuya juga tercermin dari kekagumannya terhadap tokoh-tokoh dunia seperti Abraham Lincoln, Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, dan Mother Teresa. Meski berbeda latar agama dan budaya, mereka dipandang memiliki nurani kemanusiaan yang sejalan dengan misi Islam sebagai rahmat bagi semesta alam.
Karena itu, tidak mengherankan bila Abuya diposisikan sebagai ulama moderat yang menjauhkan diri dari militansi sempit, intoleransi, rasisme, dan ekstremisme. Dakwahnya tidak mengeras dalam retorika, tetapi mengalir dalam keteduhan.
Pengakuan atas model dakwah ini terwujud melalui penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa atas disertasi bertajuk Manajemen Dakwah Islamiyah Berbasis Kemanusiaan dan Keberagamaan. Sebuah legitimasi akademik atas praktik panjang yang telah ia jalani dalam kehidupan nyata.
Ikon Spiritual dan Sosial
Menjelang Ramadhan, kehadiran Abuya di Ternate kerap dirasakan sebagai anugerah. Ribuan orang datang dan pergi setiap hari, membawa pulang bukan hanya bantuan materi berupa beras, makanan, zakat, atau sedekah, tetapi juga nasihat dan keteduhan batin.
Banyak pengamat menilai apa yang ia lakukan bukanlah pencitraan, melainkan penjiwaan. Ia memiliki sense of crisis yang kuat; batinnya mudah terusik melihat kesulitan orang lain dan segera bergerak tanpa mempertanyakan latar belakang sosial penerimanya.
Dalam lanskap keagamaan yang kerap diwarnai polarisasi, model dakwah seperti ini menjadi oase. Dakwah yang tidak berhenti pada mimbar, tetapi turun ke lorong-lorong kehidupan. Dakwah yang tidak hanya berbicara tentang surga, tetapi menghadirkan kepedulian di bumi.
Pada akhirnya, sosok Abuya Habib Abubakar mengingatkan kita bahwa ukuran kebesaran seorang ulama bukan pada kerasnya suara, melainkan pada luasnya kasih dan manfaat yang ia tebarkan.
Semoga ia senantiasa diberi kesehatan dan kekuatan untuk terus menyalakan cahaya kemanusiaan di tengah umat.(penulis)









