Mari kita akui sebuah keajaiban mutakhir di bulan Ramadan era kiwari. Anak-anak zaman sekarang rupanya memiliki daya tahan fisik tingkat dewa.
Coba perhatikan. Jarang sekali kita melihat anak usia SD atau SMP merengek berguling-guling di lantai ruang tamu karena kelaparan. Tidak ada lagi drama wajah pucat pasi bersandar di kulkas, atau menatap nanar ke arah meja makan sejak jam dua siang. Mereka anteng. Diam. Khusyuk di sudut kamar.
Luar biasa. Apakah generasi ini sudah mencapai level makrifat dalam berpuasa?
Ternyata tidak. Mari kita mendekat dan mengintip apa yang terjadi di sudut kamar itu. Ah, rupanya mata mereka sedang tersedot ke layar gawai. Jempolnya menari lincah. Telinganya disumbat earphone. Mereka tidak sedang bertapa menahan lapar, mereka sedang "dibius" oleh algoritma.
Sebagai generasi yang lahir sebelum internet menyerang, saya sering tersenyum getir jika mengingat kembali balada puasa di era 90-an hingga awal 2000-an.
Di masa itu, menahan lapar adalah penyiksaan fisik yang paripurna. Waktu berjalan dengan kecepatan siput. Jarum jam dinding di ruang tengah terasa seperti terkena kutukan sihir; ia bergerak sangat lambat, bahkan kadang rasanya mundur ke belakang. Hiburan kita hanyalah bermain meriam bambu, petak umpet, atau lari-larian di halaman masjid yang justru membuat tenggorokan kering kerontang.
Menjelang asar, air keran di tempat wudu mendadak terlihat seperti mata air zamzam. Dan ketika iklan sirup rasa melon muncul di televisi tabung, visualnya tampak seperti fatamorgana di tengah Gurun Sahara. Sungguh, puasa zaman dulu adalah pertarungan fisik yang brutal. Waktu terasa begitu panjang.
Kini, semua penderitaan itu telah diretas oleh teknologi.
Kasih anak Anda sebuah ponsel pintar, isi penuh kuota internetnya, dan pastikan baterainya seratus persen. Bimsalabim. Waktu tiga belas jam menahan lapar akan terasa seperti tiga jam saja.
Dari zuhur hingga asar, mereka push rank Mobile Legends. Dari asar menuju maghrib, mereka meluncur di linimasa TikTok atau maraton video YouTube. Rasa lapar berhasil di-bypass oleh sistem saraf.
Fenomena "hilangnya" waktu dan rasa lapar ini bukan sihir. Aplikasi yang membuat anak-anak kita anteng itu tidak dirancang oleh sembarang orang. Di baliknya ada arsitektur kecerdasan buatan yang bertumpu pada Persuasive Technology (Teknologi Persuasif).
Pakar seperti B.J. Fogg dari Stanford University telah lama merumuskan bagaimana kode algoritma—seperti fitur infinite scroll (gulir tak terbatas) di TikTok atau sistem gacha di game online—dirancang persis seperti mesin slot di kasino. Tujuannya cuma satu: membajak sistem imbalan di otak.
Mereka memicu lonjakan Dopamin secara terus-menerus. Akibatnya, anak-anak masuk ke dalam Flow State—sebuah kondisi mental di mana kesadaran terhadap kebutuhan fisik, termasuk sinyal lapar (interoceptive awareness), terputus total. Dalam pusaran Attention Economy (ekonomi perhatian) hari ini, kesadaran anak kita adalah komoditas yang sedang dijual ke pengiklan. Gawai telah berubah fungsi menjadi "Digital Sedative" atau obat bius digital yang meretas rasa haus dan lapar dengan sempurna.
Secara administratif fikih, puasa mereka tamat dengan sukses. Tidak ada nasi yang masuk. Tidak ada air yang terminum. Sempurna. Tapi, di sinilah letak ironi terbesarnya.
Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat fakta merinding: rata-rata orang Indonesia menghabiskan waktu lebih dari 7 jam sehari berselancar di internet. Di bulan puasa, durasi screen time ini dipastikan meroket tajam demi "membunuh waktu".
Masalahnya, Imam Al-Ghazali sejak berabad-abad lalu sudah mewanti-wanti. Level puasa terendah adalah puasanya perut. Level yang lebih tinggi adalah memuasakan mata, telinga, dan lisan dari maksiat. Di titik inilah generasi digital kita babak belur.
Mereka berhasil menahan godaan es cendol, tapi gagal menahan jempol mengetik "Noob lu, beban tim!" di kolom chat game. Mereka lolos dari godaan warteg yang ditutupi gorden, tapi gagal menahan diri berkomentar julid di Instagram. Mereka tidak menelan ludah melihat makanan, tapi mata mereka sibuk menelan tontonan joget nirfaedah berjam-jam lamanya. Fisiknya berpuasa, tapi argo pahalanya bocor halus, merembes, dan habis tak bersisa.
Lalu, bagaimana kita melawan "kiamat kecil" di ruang keluarga ini? Tentu tidak cukup hanya dengan menyembunyikan piring dan gelas. Kita harus melawan sistem dengan sistem.
Pertama, terapkan Digital Fasting menggunakan teknologi itu sendiri. Jangan sekadar memarahi, gunakan fitur Mobile Device Management (MDM) seperti Family Link atau pengaturan limit aplikasi di ponsel pintar mereka. Kunci akses ke game dan media sosial dari zuhur hingga asar. Biarkan mereka merasakan bosan, karena dari rasa bosan itulah interaksi dunia nyata dimulai.
Kedua, mulailah edukasi Literasi Algoritma. Ajarkan anak-anak kita sebuah prinsip dasar dunia siber: "Jika sebuah aplikasi itu gratis, maka kamulah produknya." Buat mereka sadar bahwa mereka sedang dikendalikan oleh mesin penjual iklan, bukan sedang mencari hiburan semata.
Ketiga, berikan Substitusi Dopamin. Otak yang telanjur kecanduan layar butuh pelampiasan. Ganti dopamin digital mereka dengan aktivitas motorik: ajak mereka berburu takjil di kawasan Mesjid Al-Munawwar, atau libatkan mereka menyiapkan es buah di dapur.
Sebab, jika kita biarkan semua ini, ada sebuah ironi yang sungguh jenaka namun tragis saat sore tiba.
Ketika azan magrib dari Masjid Raya Al Munawwar membelah langit Ternate, anak-anak kita biasanya akan keluar kamar dengan langkah gontai. Wajahnya pias. Tatapannya sayu. Hati orang tua mana yang tak meleleh? Kita mengira mereka nyaris pingsan menahan lapar dan haus seharian.
Padahal, usut punya usut, mereka lemas bukan karena kehabisan cairan tubuh. Mereka gontai karena baterai HP-nya sisa satu persen, dan emosinya terkuras habis gara-gara kalah war di Mobile Legends.
(penulis)









