Home / Opini

Kekerasan Atas Nama Sepak Bola 

23 Februari 2021
iluatrasi kekerasan dalam sepakbola

Beberapa hari ini time line media sosial dipenuhi dengan video kekerasan terhadap salah satu perangkat pertandingan sepak bola pada gelaran kompetisi Ternate Premier League, beberapa minggu lalu pun beredar video serupa pada pertandingan amatir lainnya di pulau jawa. 

Kekerasan terhadap wasit, sesama pemain ataupun suporter kerap terjadi di indonesia seakan ini menjadi kebiasaan yang telah mendarah daging mirisnya lagi kekerasan dalam olahraga terpopuler di dunia ini sering sekali terjadi akibat dari ketidakpuasan tim individu pemain ataupun suporter yang tak puasa dengan kepemimpinan wasit pada saat memimpin pertandingan, Padahal ada kampanye nilai-nilai dalam sepak bola yang selalu terlihat dan terbaca yang terus berulang dilakukan oleh PSSI yaitu Respect, fair play, unity, discipline tapi nampaknya tak pernah teresapi benar dalam benak para pelaku sepak bola sehingga kampanye tentang nilai-nilai sepak bola yang harus dimiliki setiap pelaku sepak bola terlihat sia-sia belaka. 

Lantas siapa yang harusnya disalahkan??? Nampaknya ini hanya boleh disalahkan kepada para pelaku tindak kekerasan saja padahal ini adalah sebuah akumulasi dari sistem sepak bola kita yang tak berjalan baik, mari kita mulai dari grassroot (akar rumput) di SSB nampaknya semua hanya fokus untuk meningkatkan kemampuan anak didiknya dalam hal mengolah si kulit bundar, sering sekali pelajaran tentang menghormati lawan, menghargai wasit, sopan santun dan nilai-nilai baik dalam kehidupan luput untuk diajarkan memang tak wajib di ajarkan oleh pelatih tapi penting sekali ketika si anak kemudian menjadi pesepakbola profesional setidaknya ia punya bekal nilai-nilai diatas, pemain sepak bola sekarang harusnya paket komplit skil yang baik dan atittude yang bagus, Peran orang tua dirumah juga begitu penting karena waktu di SSB pastinya lebih sedikit dari pada waktu anak dirumah. Kemudian sistem pertandingan mungkin perlu di evaluasi kembali idealnya untuk usia dini dan usia muda kompetisi penuh lebih baik dalam mengelola emosi dan psikologi pemain dari pada sekedar menggelar turnamen karena pemain dan tim masih punya waktu cukup untuk mengevaluasi tim dan individu pemain dari waktu ke waktu tujuannya bukan untuk juarakan? tapi memberikan pengalaman dan mengasah kemampuan pemain sehingga siap menjadi pesepakbola profesional. Selanjutnya ketegasan operator pertandingan maupun PSSI sebagai induk sepak bola haruslah diperlihatkan  hukum dengan berat sehingga ada efek jera, tak ada tempat untuk kekerasan dalam sepak bola apalagi mengatasnamakan sepak bola untuk melakukan kekerasan. 

akhirnya saya hanya ingin mengatakan bahwa sepak bola adalah olahraga paling menghibur dimuka bumi ini, banyak harapan anak-anak kita untuk menjadi pesepakbola kita tak harus membiarkan mereka mewarisi contoh-contoh buruk yang terjadi sekarang, jangan biarkan mereka bermain sepak bola dengan dendam dan amarah hingga menjadikan mereka dapat melakukan kekerasan tiap saat, mari setop kekerasan atas nama sepak bola karena sepak bola dimainkan tidak hanya dengan kaki tapi dengan otak dan hati. 

Panjang umur hal-hal baik dalam sepak bola.

 (penulis)


Reporter: Penulis