SOFIFI, OT - Maraknya penggunaan lem eha-bond pada kalangan remaja di kota Ternate mendapat respon dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinas-P3A) Provinsi Maluku Utara (Malut).
Kepala Dinas-P3A Malut, Musyrifah Alhadar menduga, maraknya kasus penggunaan lem di kalangan remaja bahkan pada anak dibawah umur, dipicu sejumlah faktor.
Dia menjelaskan, ada beberapa faktor yang mendasari penggunaan lem di kalangan remaja bahkan anak dibawah umur, diantaranya, pergaulan yang salah, kurang perhatian dan pengawasan keluarga dan lingkungan sekitarnya, serta faktor coba-coba dari anak bersangkutan.
“Jadi kebanyakan para remaja yang hisap lem eha-bond di benteng Oranje itu lantaran ada masalah keluarganya seperti orang tua mereka yang bercerai sehingga possesif," ungkap Musyrifah baru-baru ini.
BACA JUGA : Kota Ternate ‘’Darurat’’ Lem Eha-Bond
Kata dia, kasus seperti ini harus menjadi perhatian semua pihak terutama lingkungan keluarga, "tinggal dari keluarganya atau orang tua mereka yang harus memperhatikan agar kasus seperti itu tidak terjadi lagi," ujarnya.
Dengan temuan-temuan ini, Musyrifah berharap ada peran aktif dari keluarga untuk terus melakukan pembinaan akhlak.
"Ini butuh peran orang tua yang aktif memberikan pembinaan kepada anak-anaknya," tukas Musyrifah seraya menyebut, aparatur Kelurahan di tingkat RT/RW juga harus intens mengawasi aktifitas generasi muda di lingkungan masing-masing.
"Kasian anak-anak kita apabila sejak usia dini sudah dalam pengaruh lem, bagaimana nanti masa depan mereka," ungkapnya.
Musyrifah menambahkan, pengaruh mengisap lem eha-bond sama dengan narkoba, karena berpengaruh hingga pada syaraf.
"Untuk itu kami menghimbau ke orang tua agar lebih protektif dalam memperhatikan pergaulan anak-anak mereka, kemudian senantiasa melakukan komunikasi agar interaksi antara anak dan orang tua bisa terjalin dengan baik. Ini juga upaya positif agar mereka (anak-anak) tidak terjerumus dalam pergaulan yang salah," tutup Musyrifah.
(ian)








