Home / Indomalut / Ternate

Sekda Ternate Hadiri Mubes Sihida Ngori 2026:

Ajak Warga Sidangoli Bersatu Bangun Maluku Utara
18 Juli 2026

TERNATE, OT – Musyawarah Besar (Mubes) Ikatan Kekeluargaan Sihida Ngori Kecamatan Jailolo Selatan Tahun 2026 memunculkan kejutan. Di hadapan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Ternate, Dr Rizal Marsaoly, warga Sidangoli secara terbuka menyuarakan aspirasi agar wilayah mereka dikeluarkan dari Kabupaten Halmahera Barat dan digabungkan kembali secara administratif ke Kota Ternate.

Aspirasi besar tersebut mencuat dalam forum musyawarah yang berlangsung khidmat di Pendopo Kesultanan Ternate pada Sabtu (18/7/2026).

Tokoh masyarakat Sidangoli, Haji Ahadi Abas, menjadi sosok yang menyuarakan langsung keinginan mendalam warga Jailolo Selatan tersebut.

Menurutnya, tuntutan untuk bergabung dengan Ternate bukan sekadar romantis sejarah, melainkan kebutuhan mendesak untuk menyelamatkan perekonomian warga yang kian terpuruk.

Secara historis, Sidangoli memiliki ikatan emosional dan kultural yang sangat kuat dengan Kesultanan Ternate. Di masa lalu, wilayah ini merupakan penyokong utama kemakmuran kesultanan melalui hasil bumi dan lautnya.

Namun, kejayaan ekonomi itu meredup pasca-dialihkannya aktivitas penyeberangan feri dari jalur Ternate–Sidangoli ke jalur Ternate–Jailolo. Sidangoli yang dulunya merupakan urat nadi transportasi daratan Halmahera, kini menjadi sepi.

"Sidangoli dan Ternate itu satu. Sejarah mencatat hasil bumi kami masuk ke Keraton Ternate. Oleh karena itu, kami meminta Pemerintah Kota Ternate untuk bisa menarik kembali Sidangoli masuk ke wilayah Ternate," ujar Haji Ahadi yang langsung disambut riuh tepuk tangan dari para peserta Mubes.

Dampak dari sepinya aktivitas transportasi tersebut sangat dirasakan oleh generasi muda. Banyak dari mereka yang terpaksa meninggalkan kampung halaman.

Dijelaskan Haji Ahadi, dampak pengalihan jalur Feri bagi warga Sidangoli, diantaranya, warga Sidangoli kehilangan sumber penghasilan: Usaha mikro dan warung lokal di sepanjang jalur terdahulu gulung tikar.

Selain itu, tingginya angka migrasi. Generasi muda terpaksa merantau ke wilayah tambang seperti Obi dan Weda demi mencari lapangan pekerjaan.

Merespons dinamika dan kehangatan forum tersebut, Sekda Kota Ternate, Dr Rizal Marsaoly, tidak secara spesifik memberikan janji politik terkait batas wilayah administratif. Namun, dia menegaskan bahwa Kota Ternate bertumpu pada falsafah Moloku Kie Raha (Kesultanan Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan) yang menjunjung tinggi persaudaraan lintas batas.

Rizal mengajak seluruh warga Ikatan Kekeluargaan Sihida Ngori untuk menjadikan momentum Mubes ini sebagai wadah memperkuat solidaritas dan modal sosial demi pembangunan daerah.

“Perbedaan bukanlah alasan untuk berpisah, tetapi menjadi kekuatan untuk saling melengkapi. Nilai-nilai persatuan inilah yang harus terus kita wariskan kepada generasi penerus,” tegas Rizal dalam sambutannya.

Orang nomor tiga di jajaran Pemerintah Kota Ternate itu, turut mengapresiasi eksistensi organisasi kekeluargaan yang dinilai bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan jembatan untuk melahirkan program konkret bagi masyarakat di Sidangoli dan Kecamatan Jailolo Selatan secara umum.

Dia juga menambahkan bahwa sebagai kota pusat kegiatan, Ternate selalu terbuka bagi seluruh paguyuban tanpa memandang asal daerah asal. Pemkot Ternate memastikan memberikan ruang yang setara bagi siapa saja yang ingin berkontribusi bagi kemajuan daerah.

 (fight)


Reporter: Gibran
Editor: Redaksi

BERITA TERKAIT