Home / Opini

Puzzle Perdamaian

Di Rimba Pala Patani
09 April 2026
Abdurrahim Saraha #Tanah Merdeka Institut

Banemo - Sibenpopo ataukah Sibenpopo - Banemo. Dari mana bergerak. Jika dari Weda dengan arahan sahabat Arman Alting yang kini Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Halmahera Tengah menuju Patani maka letaknya adalah Sibenpopo-Banemo. Sebaliknya kalau dari Patani yang ditemani Lukman Esa (LUKS) laki laki akal sehat ketua komisi 3 DPRD Halmahera Tengah menuju Weda maka posisinya adalah Banemo-Sibenpopo. Tetapi Bilifitu nampaknya terus terngiang jika mengingat Patani. Puluhan tahun silam bertemu, bercengkrama, bahkan beberapa keluarga Patani khususnya Bilifitu pernah datang dan bersama disini, di Dowora, Tidore. Itu sudah lama, lain waktu saya runut jejaknya kenapa Bilifitu itu pantas dikenang. Satu hal yang bikin perjalanan perjalanan itu belum tergambar detail nuansa keindahan alam, kampung kampung yang dilewati, laut maupun perbukitan sampai makanan termasuk ‘gatang kanari’ adalah karena saya belum pernah lakukan perjalanan itu: dari Weda menuju Patani ataupun Patani ke Weda, lain kali kita jelajahi rutenya untuk ‘Baronda Halteng.

Dahulu, kita mengenal Chaidir Djafar, tokoh hebat dari Banemo, terkenal di Papua lantas menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Daerah Pemilihan (Dapil) Maluku Utara. Hari ini kita sebut lagi satu nama yang kalau diatas podium dia adalah singa yang mengaum-menggetarkan hati, dialah Ahlan Djumadil.

Ahlan Djumadil (Adil) itu orang yang telah lama makan asam garam dunia aktivis sehingga saat didaulat mendampingi Ikram Malan Sangaji (IMS) dengan singkatan IMS Adil, duet ini lalui berbagai badai gelombang politik pemilihan kepala daerah dan terpilih memimpin Halmahera Tengah periode 2025-2030.  

Peristiwa berulang yang tak tuntas

2 April 2026 seorang warga Banemo meninggal (dengan tubuh tersayat). Kematian warga Banemo ini menambah panjang peristiwa serupa (meninggalnya warga saat pergi ke lahan pertaniaannya). Di Halmahera Tengah dan Halmahera Timur Sejak tahun 2004 sampai kini, sekitar 10 kasus pembunuhan serupa terjadi, hanya satu di Halmahera Timur yang berhasil di tuntaskan oleh aparat Kepolisian Resort Halmahera Timur yang pelakunya dijebloskan 14 tahun penjara. Selain itu 9 kasus selalu berakhir tidak ada hasil. Aparat keamanan menyebut para pelaku itu sebagai OTK alias Orang Tak di Kenal. Ini peristiwa yang terulang berulang kali dan seperti itulah hasil akhirnya, pelakunya tak tersentuh tak ditemukan.

Sekitar 9 peristiwa ‘brutal’ yang tak pernah dapat diselesaikan itu adalah amarah yang terpendam-tersimpan; terus terjaga dan terawat dengan air mata juga tatapan marah membara yang suatu waktu akan meledak. Sebagai permisalnnya hari itu. Di Jumat yang penuh berkah oleh kalangan Muslim sebagai sayyidul ayyam (penghulu segala hari) dan bertepatan dengan prosesi Jumat Agung oleh ummat Nasrani berubah jadi awan hitam penuh dengan duka air mata dan darah. 

Dapatkah seseorang dan atau sebuah komunitas mampu bertahan, diam saja menerima kenyataan dan tak melawan ketika di dera bertubi tubi duka nestapa penderitaan dan atau kasus pembunuhan yang dialamatkan kepada komunitasnya datang silih berganti?. Adalah sunnatullah jika ada reaksi atas aksi aksi aksi itu, reaksi untuk menolak dipermainkan, reaksi menolak menerima jawaban pasrah- malas bahwa pelakunya adalah OTK, reaksi untuk menolak segala nasehat himbauan basa basi, reaksi untuk menentukan dan atau memastikan keamanan komunitas terjaga dan dijaga dengan baik, meski kita juga maklumi bahwa jalan hukum atas semua reaksi psikologis itu bisa saja berdampak menyakitkan bagi para pelaku, tetapi itulah solidaritas ia tumbuh bagai satu tubuh yang jika satu bagian terluka maka bagian bagian tubuh lain akan juga merasakan sakit yang sepadan.

Darah dan air mata jumat kemarin adalah pesan tegas kepada semua pihak untuk segera berbenah, ketika menghadapi peristiwa serupa yang memakan korban jiwa, apalagi ditengah dinamika sosial kemasyarakatan yang terus berubah cepat dibawah gempuran-invasi industri ekstraktif.

Ujian Pertumbuhan ekonomi tinggi

Adakah motif ekonomi dibalik dan atau memboncengi peristiwa peristiwa musibah (pembunuhan) ini. Beberapa diskusi kecil menyebut bahwa Hutan Patani yang merupakan rimbanya pohon pala itu sering menjadi area perselisihan termasuk pengusaan tanah, tetapi ini juga harus dikaji lebih mendalam dan komprehensif. Dalam skala luas motif ekonomi (oligarki), beredar bahwa beberapa daerah di Patani sekarang dikapling berbagai izin tambang maupun sawit. Sebab itulah beberapa kali reaksi reaksi sporadis kalangan pemuda mahasiswa menenteng spanduk megaphone menolak Rimba Pala Patani harus tumbang di tackle oleh tambang dan sawit. Jika motif ekonomi (oligarki) terlibat maka sangat sederhana-gamblang secara teoritis maupun faktual untuk kita dapat secara cepat dan tepat menunjuk hidung pihak pihak yang berdiri menjadi aktor maupun sutradara atas peristiwa itu, tetapi sekali lagi butuh telaahan mendalam. 

Ayo Sekolah

Perselisihan biasa, mudah sekali disulut dan berubah menjadi pertikaian-peristiwa brutal, jika itu terjadi dalam situasi belum kuat dan mapannya tingkat pendidikan. Pendidikan yang rendah mempengaruhi tabeat dan atau kepribadian dan pola pikir. Buruk sangka, tertutup dengan hal hal baru meski lebih positif, mengedepankan rasa curiga, gampang terhasut, sangat reaktif-provokatif terhadap sebuah masalah. Dengan situasi begitu, gampang di mobilisir untuk kepentingan personal dan atau komunitas yang semu, apalagi untuk tunggangan kepentingan politik praktis. Saat ini terlihat pemerintah Halmahera Tengah gencar-genjot tumbuh kembang-mekar akal, sehat salah satunya adalah kerjasama dengan Perguruan Tinggi untuk kuliah gratis bagi mahasiswa yang berasal dari Halmahera Tengah.

Kepolisian Keras dan Tegas 

Kisah sukses aparat Kepolisian Resort Halmahera Timur dalam ungkap-tangkap pelaku kasus Waci yang kemudian divonis 14 penjara memberi harapan dilakukannya usut-tuntas kasus Banemo. Kini teknologi semakin maju, kecakapan aparat kepolisian semakin mumpuni, salah satu aspek penting memberi dan menumbuhkan rasa saling percaya secara hakiki diantara sesama anak negri Gamrange adalah aparat Kepolisian untuk segera pro aktif mencari menemukan dan diproses pelaku pembunuhan itu secara wajar-pantas.

Hampir tidak ada alasan yang paling masuk akal untuk mengatakan bahwa aparat Kepolisian sulit untuk menuntaskan kasus ini. Dalam kasus Sambo adalah ketika secara keras dan tegas Kapolri Jenderal Polisi Listiyo Sigit Prabowo memerintahkan; “Lakukan penyelidikan segera dengan menggunakan metode scientific crime investigation”. Tak butuh waktu lama kasus Sambo dapat di tuntaskan. Pesan tegas Kapolri ini pantas untuk di suarakan publik dalam rangka melengkapi rangkaian pauzle puzle kemanusiaan (aman dan damai) yang kini telah perlahan tapi pasti disusun kembali. Aparat keamanan TNI-Polri dan Pemerintah telah tak henti terus memediasi, sampai kini bisa memberi rasa aman, saling jabat tangan merendahkan ego mendingingkan kepala dan menyamankan hati.  

Spirit Fagogoru Negri Gamrange

Falsafah fagogoru; Ngaku re rasai, Budi re bahasa, Sopan re hormat, Mtat re meimoi yang telah 800 tahun lebih mekar sebelum Indonesia lahir, dirawat dijaga secara seksama oleh para datuk moyang leluhur Negri Gamrange yang hebat dan legend itu. Fakta ditemukan ketika musibah kemanusiaan (bernuansa SARA) tahun 1999-2000. Banemo yang Muslim dan Sibenpopo yang Nasrani tetap tegak berdiri-kokoh tak oleng diterpa hasutan-provokasi. Kedua desa dengan dua agama mayoritas, dengan suku berbeda malah bahu membahu memberi dan menjaga ketentraman-ketenangan, kenyamanan-kedamaian, sementara beberapa daerah lain di Maluku Utara saat itu tercabik-koyak amarah membabi buta dalam musibah Sara itu. Ini memberi garansi dan apresiasi bahwa spirit fagogoru di Negri Gamrange itu telah teruji dan pantas dipuji karena dapat dengan kokoh menjadi benteng kemanusiaan-perdamaian yang mampu menghalau secara presisi setiap provokasi bernuansa Sara. 

Kini infrastruktur rumah tinggal maupun publik lainnya yang terdampak musibah, terus digenjot oleh pemerintah Halmahera Tengah. Jika sudah begitu responsivenya Bupati, aparat keamanan dan seluruh stake holder Halmahera Tengah mengambil tugas dan tanggungjawab kepemimpinan-kemanusiaan dalam peristiwa ini, maka apa pentingnya lagi ‘bising-brisik’ soal air mata. Meski air mata yang perlahan merembes-merengsek turun membasahi wajah siapa saja termasuk para pemimpin adalah reaksi alamiah setelah tubuh dan fikiran bergegas-bergerak, setelah bergumul-berjibaku kesana kemari mengusap air mata dan membalut duka menganga rakyatnya sendiri. 

Para pemimpin dilevel manapun senantiasa memberi respon dan atau penyataan publik berdasar akal sehat, tenang-rasional, tidak cengeng sentimental-emosional. Saat ini ada satu puzle perdamaian yang hendak di susun kembali, dengan menunggu aparat Kepolisian dibawah Komando Polda Maluku Utara untuk secara presisi menemukan pelaku pembunuhan dua april di rimba pala Patani maupun beberapa lain sebelumnya.  

Di laut Patani yang biru tenang-jernih, teruslah bersuka cita, April ini musimnya Sib Mimnyen: waktunya panen laor sambil menatap hijaunya pegunungan yang kokoh. Bersenandunglah sepenuh hati merdeka; biarkan Rimba Pala Patani itu terus mekar-menebar cahaya kehidupan nan tak kunjung padam tanpa tambang dan sawit.

 (Rayyan)


Reporter: Rayyan
Editor: Redaksi

BERITA TERKAIT