Home / Opini

Berdamai Dengan Ruang Kota

04 Januari 2021
Rosydan Arby

Space is a socal product, yang diutarakan oleh teori populernya Henry lefebvre sebagai ruang kota, sebagai produksi dalam menjawab tantangan sosial. Ernest W. Burgess juga mengungkapkan perkembangan kota dengan pola konsentris sebagai produk dalam menyebarkan jumlah wilayah terbangun. Kita akan temukan banyak teori-teori yang menguatkan tentang kota dan isinya. Mulai dari kebijakan pengembangan, hingga gejolak politik yang membilahkan kepentingan. 

Mungkin saja lefebvre dan Ernest W. Burgess selalu menekankan substansial pada teknis memanfaatkan ruang. Padahal ruang dalam memproduksinya, ada kepentingan sosial yang terbangun. Lefebvre dan Ernest mungkin saja akan kecewa jika produksi ruang kota diproduksi oleh para perencana untuk meloloskan kepentingan segilintir orang yang mempunyai modal, mungkin inilah yang disebutkan David Harvey yang selalu menekankan pada proses kota dengan komitmen para kapitalis. 

Catatan-catatan tentang kota tidak akan terlepas dari kepentingan. Kepentingan inilah yang membuat pembilahan sosial ketika terjadinya momentum politik yang bergejolak ketika perang gagasan yang isinya adalah kepentingan kekuasaan. Pada akhirnya, kita diperhadapkan dengan "perang" politik saling hina, karena miskin akan gagasan untuk membangun kota. Narasi yang disusun dalam visi-misi, selalu menjadi bahan jualan untuk meyakinkan pada para pemilih, padahal isi dan konten yang dihadirkan selalu membawa kepentingan para pemodal. 

Setelah momentum politik sudah selesai, visi-misi tidak lagi menjadi kekuatan utama untuk mendorong kesejahteraan, melainkan ucapan selamat dari pendukung dan proyeksi jabatan bagi para pembantu pemerintah. Mungkinkah masyarakat yang dahulunya ikut dalam euphoria politik akan mendapatkan manfaat untuk memberikan keberlangsungan dalam ruang kota atau tidak. Jawabannya akan bermuara pada "kolompok politik yang mendukung kekuasaan yang terpilih dan kelompok politik yang tidak mendukung". Hal semacam ini sangatlah lumrah untuk melihat proses pembangunan setelah terjadinya momentum politik. Akan tetapi, mata rantai semacam ini haruslah dipertahankan, ataukah berdamai dengan pengrangkulan di atas konsep damai dengan kekuasaan sekalipun menjadi oposisi bagi pemerintah. 

Pemanfaatan ruang kota untuk meminimalisir narasi dengan wacana politik akan merubah arah perencanaan ruang kota kedepan. Ruang-ruang publik akan dibumbui oleh narasi kritis yang saling mencela satu sama lain, karena ruang publik yang didesain untuk menciptakan arena saling menguji retorika. Semakin banyak ruang publik di kota, semakin banyak pula konsekuensi dalam perdebatan walaupun tidak menjadi konflik, tetapi keutuhan ruang publik akan tercemari dengan narasi negatif di dalamnya. 

Seperti konsep yang dipopulerkan oleh Habermas, yang mengutarakan bahwa ruang publik memiliki peran yang cukup berarti dalam proses berdemokrasi. Ruang publik merupakan ruang demokratis atau wahana diskursus masyarakat, yang mana warga negara dapat menyatakan opini-opini, kepentingan-kepentingan dan kebutuhan-kebutuhan mereka secara diskursif. Pada tingkatan ini, ruang publik menjadi ujung tombak dalam menuangkan segala opini-opini yang akan mengarahkan wacananya pada pembilahan sosial. 

Keterkaitan inilah yang dimaksud dalam tulisan opini ini. Jika ada narasi-narasi yang menyejukan paska momentum politik, maka desain ruang publik haruslah memanfaatkan dengan pola desain ruang publik yang juga menyejukan dan terbuka bagi semua kalangan, agar wacana-wacana yang mengakibatkan pembilahan sosial bisa terminimalisir. 

Berdamai dengan ruang kota ialah representasi yang sekaligus sebagai adaptasi sosial, secara fisik maupun non fisik. Berdamai dengan ruang kota ialah memberikan proses pendewasaan untuk mengawal visi dan misi-nya Wali Kota terpilih, agar para kapitalis yang mendominasi menjadi ketakutan, bahwa kekuatan masyarakat di ruang kota lebih besar dibandingkan kepentigan para kapitas/para pemodal. Dan Berdamai dengan ruang kota ialah momentum untuk membangkitkan gairah perkotaan, agar menjadi kota yang nyaman bagi semua kalangan untuk tetap hadir dalam ruang kota tanpa intimidasi. 

Akhir dari opini ini, akan mempertegas pada sebuah komitmen untuk saling merangkul hingga menjadi kekuatan besar, agar tidak lagi ada pembilahan di ruang kota yang mengakibatkan perseteruan wacana yang hanya menghabiskan energi. Masyarakat kota, marilah saling merangkul demi keberlangsungan hidup kota paska pemilihan Wali Kota yang sudah selesai pada bulan Desember lalu, tugas kita sebagai masyarakat adalah untuk mengawal ruang kota dan mekanisme kebijkan pemerintah, untuk menyelamatkan kesejahteraan masyarakat dan ruang ekologinya. (penulis)


Reporter: Penulis