TERNATE,OT- Sebanyak 6 (enam) siswa SMP di Kota Ternate, Maluku Utara (Malut) dipukul oleh sekelompok orang yang tidak dikenal, pada 11 Desember 2021 lalu sekitar pukul 03.00 Wit di Kelurahan Tanah Tinggi, Kecamatan Ternate Selatan.
Para pelaku diduga adalah orang dekat korban pengeroyokan dan pembunuhan inisial MRR yang ditemukan di Satdion Gelora Kieraha (GKR) Ternate pada 9 Dsember 2021 lalu. Sebab para pelaku (sekelompok pemuuda, red), menemukan motor MRR di depan salah satu Sekolah Dasar (SD) di Kelurahan Tanah Tinggi, yang kebutulan keenam sisiwa itu berada di lokasi yang sama sehingga langsung dipukul.
Salah satu dari siswa itu menceritakan, kejadian pemukulan itu berawal saat mereka sedang nongkrong di depan SD di Kelurahan Tanah Tinggi. Saat itu, datang gerombolan dan langsung menghajar mereka.
"Kami duduk di situ dari jam 11 malam sampai jam 3 malam. Kami berencana pulang ke rumah. Tiba-tiba banyak orang berdatangan sehingga kami panik dan langsung bersembunyi karena tidak tahu masalah apa," tuturnya.
Namun kata dia, segerombolan orang menemukan mereka sehingga langsung melakkan pemukulan. Ia mengaku, kepalanya dipukul menggunakan sebatang kayu berung kali.
"Mereka juga tendang muka saya dan pukul pakai kayu terus menerus di bagain kepala serta ada juga yang menendang dada saya. Kami semua dipukul,” katanya.
Salah satu korban juga mengaku, massa yang datang lalu memukul mereka karena melihat sebuah motor yang diduga milik almarhum MRR yang sedang parkir di depan SD.
“Jadi meraka mengira kami adalah pelaku pengeroyokan almarhum, padahal yang membawa motor itu tiga orang remaja perempuan yang masing-masing berinisial Put, Nisa dan Santi,” ujarnya.
Lanjutnya, mereka kemudian dibawa sampai di depan RSUD Chasan Boesoirie Ternate lalu terus dipukuli bahkan sempat menyiram minyak dan mau dibakar hidup-hidup.
“Mereka siramm minyak ke kami dan mau membakar kami hidup-hidup. Beruntung Polisi datang dan mengamankan kami ke kantor Polres Ternate," ungkapnya.
Sementara salah satu keluarga korban, Muhdar Din dan 24 anggota keluarga korban lainnya yang mendampingi 6 remaja ini menjelaskan, persoalan pengeroyakan yang menimpa MRR warga Mangga Dua sampai meninggal dunia, pihaknya tidak ikut campur.
Namun, tindakan main hakim sendiri terhadap para remaja harus diproses secara hukum. "Anak-anak yang di hbawa umur ini tidak tahu apa-apa, bahkan mereka tidak terlibat dan masalah meninggalnya MRR," kata Mohdar Din.
Untuk itu, Mohdar meminta pihak Kepolisian agar segara menangani masalah ini, sehingga bisa menjadi bahan pembelajaran kedepan.
Ia mengaku, orangtua korban 6 remaja telah melaporkan kejadian yang menimpah anak-anak mereka ke pihak yang berwajib, hanya saja belum ada kepastian dari Polres Ternate.
"Mestinya pihak Kepolisian tidak boleh seperti itu, ini laporannya sudah dimasukkan maka harus segera ditindak lanjuti," kata Mohdar, Senin (13/12/2021).
Terpisah, Kapolres Ternate AKBP Aditya Laksimada ketika dihubungi via telepon terkait laporan keluarga korban mengatakan, dirinya akan berkoordinasikan lebih dulu ke Kasat Reskrim.
"Pada prinsipnya kami tetap melayani jika ada laporan yang masuk," tegasnya.
Menurutnya, kasus ini sudah melebar kemana-mana, sehingga pihaknya akan bekerja ekstra. Untuk itu, jika lapornya sudah masuk dan dikuti dengan hasil visum tidak mungkin dibiarkan begitu saja atau ditolak.
“Kalau sudah lapor dan sampai babak belur serta dilengkapi dengan bukti visum terus dibiarkan atau ditolak, saya rasa tidak mungkin. Jika belum ada informasi bisa jadi anggota saya terkendala jumlah personel atau bagaimana,” jelasnya.
"Intinya terkait dengan masalah ini tetap kita selesaikan, kita urai satu persatu. Kebijakan saya seperti itu," tegas Adit.(ier)








