Home / Berita / Politik

Pilkada Tikep, Paslon SALAMAT Unggul Berdasarkan Hasil Survei

03 Desember 2020
Paslon SALAMAT

TIDORE, OT- Pertaruangan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tidore Kepuluan (Tikep) kini mendekati hari H pemilihan, ribuan masyarakat Kota Tidore masih menanti siapa yang kelak menjadi orang nomor satu di “Puncak Kie Matubu” tersebut. 

Hal ini disampaikan Direktur Eksekutif Lembaga Penelitian dan Pengkajian Pembangunan Daerah (LP3D) Maluku Utara, Jufri M. Soleman melalui press release, Kamis (3/12/2020).

Menurutnya, massa kampanye sudah hampir usai dan seluruh pasangan calon juga telah dua kali bertarung di atas pangggung debat, isu- isu terkait paslon pun datang silih berganti, berbagai arus tersebut pastinya berefek pada pemilihan politik Kota Tidore.

Atas pertimbangan tersebut, survei ini menjadi penting untuk dicermati setelah dinamika politik yang cukup panas dan menjelang pelaksanaannya masa tenang pilkada pekan depan.

Survei ini adalah survei pertama yang dilaksanakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengkajian Pembangunan Daerah (LP3D) Malut. Riset dilakukan melalui survei tatap muka dari rumah ke rumah terhadap 456 responden warga Kota Tidore Kepulauan yang memiliki hak suara (usia 17 tahun ke atas dan sudah pernah menikah) di 221 TPS yang terdistribusi di seluruh kecamatan di Kota Tidore Kepulauan.

Survey dilakuan pada tanggal 26-29 November 2020 dengan metode probality sampling, jumlah sampel tersebut memiliki margin error sebesar 5% dengan tingkat kepercayaan 95%.

Profil responden survei ini di dasarkan pada kondisi demografis Kota Tidore Kepulauan tergambar sebagai berikut 1. Berdasarkan kelompok agama responden hanya ada dua kelompok agama yakni, Islam (97%) dan Kristen Protestan sebanyak (3%). 

Berdasarkan tingkat pendidikan sebagian besar responden berpendidikan SD/MI (18%), SMP/MTs (22%), SMA/MA (19%), D1-D3 (5%), S1 (10%). Sisanya tidak bersekolah sebanyak (8%). Berdasarkan jenis Pekerjaan responden sebagian besar adalah Petani (62%) dan Ibu rumah tangga (9%). Selebihnya sebagai wiraswasta (5%), Pegawai Swasta (2%) dan PNS sebanyak 3 (3%), nelayan 2 (2%), Pensiunan 2 (2%), Masih sekolah/Kuliah 5 (5%) dan Belum kerja 6 (6%). Sementara berdasarkan jenis kelamin responden banyak didominasi perempuan (51%) dan Laki-Laki (49%)

Kata Jufri, berdasarkan Elektabilitas Personal Calon Wali Kota Tidore Kepulauan, Salahuddin Adrias menjadi sosok calon Wali Kota Tidore yang paling banyak mendapatkan dukungan sebesar (37,26%) disusul Ali Ibarahim (33,04%), dan Basri Salama (22,47%) dan tidak menjawab (7,23%). 

Untuk Elektabilitas Calon Wakil Wali Kota, Muhammad Djabir Taha menjadi Calon Wakil Wali Kota yang paling banyak mendapatkan dukungan sebesar (37,26%) disusul Muhammad Sinen (35,03%) dan Muhammad Guntur Alting (22,30%) dan yang tidak menjawab (4,5%). 

Sementara, berdasarkan Elektabilitas pasangan calon Wali Kota Tidore Kepulauan, Salahuddin Adrias-Muhammad Djabir Taha (SALAMAT) menjadi pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Kota Tidore Kepulauan yang paling banyak mendapatkan dukungan sebesar (44,54%) disusul pasangan Ali Ibarahim-Muhammad Senen (AMAN) (37,32%), dan Basri Salama- Muhammad Guntur Alting (BAGUS)(13,64%) dan pemilih yang tidak menjawab (4,5%)

"Kami juga mengamati trend pasangan calon Wali Kota Tidore Kepulauan, dari hasil survei diketahui dalam dua pekan terakhir dukungan terhadap pasangan calon Wali Kota, Basri Salama- Muhammad Guntur Alting (BAGUS) dan Salahuddin Adrias-Muhammad Djabir Taha (SALAMAT) dan cenderung naik hingga (1%). Pasangan calon Ali Ibarahim-Muhammad Sinen cenderung turun hingga (5%), dan. Sementara pemilih tidak menjawab (4,5%), kami mengamati ada beberapa hal penting yang mempengaruhi dinamika perubahan suara pada Pilkada Kota Tidore Kepulauan tahun 2020," jelas Direktur Eksekutif LP3D Malut.

Pertama, performa masing-masing kandidat di area debat, sosialisasi dan kampanye terbuka. Masyarakat telah mampu memilah dan memilih ide dan gagasan masing-masing kandidat yang realistis dan sesuai dengan keiniginan dan kebutuhan mereka, termasuk solusi untuk menjawab berbagai permasalahan yang terjadi, bukan sekedar janji.

Kedua, Keterlibatan secara akttif para tokoh- tokoh kunci yang secara aktif melakukan konsolidasi yang cukup signifikan serta keterlibatan para kaders-kaders partai baik pengusung maupun pendukang yang secara masif dan terorginisr melakukan konsolidasii.

Ketiga, Ada semacam ketidakpercayaan publik (distrus) terhadap elit.(uji)


Reporter: Fauji Husen