TERNATE, OT - Masalah banjir di Kota Ternate, yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim melanda wilayah padat penduduk dan mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat. Hal ini menjadi perhatian utama pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Ternate, nomor urut 2, Dr. M. Tauhid Soleman dan Nasri Abubakar.
Paslon dengan tagline "tuntaskan AMANAH itu sangat memahami bahwa infrastruktur perkotaan yang efektif dan tanggap bencana adalah kunci untuk menjadikan Ternate kota yang nyaman dan bebas dari bencana rutin seperti banjir.
Menurut Tauhid, Kota Ternate merupakan salah satu dari sepuluh kota di Indonesia yang mendapat pendampingan dari United Cities and Local Government Asia-Pacific (UCLG-ASPAC), melalui program Climate Resilient and Inclusive Cities (CRIC), guna penyusunan rencana aksi iklim daerah.
"Dan Pemerintah Kota Ternate telah melakukan beberapa hal terkait dengan hal itu," aku Tauhid belum lama ini.
Dikatakan, penyusunan dokumen aksi iklim daerah dilakukan secara partisipatoris dan melibatkan lintas sektor. Pelatihan Adaptasi dan Mitigasi, dilakukan sebagai bagian peningkatan kapasitas stakeholder terkait (Instansi Pemerintah, Swasta dan Komunitas).
"Penyusunan rencana aksi daerah mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, saat ini dokumen aksi daerah pada tahapan akhir pendampingan tim CRIC UCLG-ASPAC," paparnya.
Early Warning System lanjut Tauhid, menjadi tematik utama guna keterwujudan resiliensi daerah terhadap perubahan iklim, Early Warning System yang dikembangkan, yaitu:
- Berbasis Masyarakat dan Kearifan Lokal, yaitu peningkatan kapasitas masyarakat melalui edukasi dan pelatihan terkait perubahan iklim dengan kolaborasi lintas sektor.
- Peran Pemerintah Kota Ternate melalui kerjasama Forum Pengurangan Risiko Bencana Kota Ternate Bersama Pertamina FT-Babullah, telah melakukan pelatihan ke masyarakat Kelurahan Tubo, untuk menghitung kerentanan iklim, dengan aksi adaptasi berupa menghidupkan kembali warisan leluhur terkait upaya pelestarian lingkungan yang berdampak pada ketahanan iklim.
- Berbasis Teknologi, melalui pemasangan alat deteksi pada beberapa Kawasan tertentu dengan tingkat kerentanan tinggi dan memiliki keterancaman bencana alam lainnya.
Keberlanjutan Program Climate Resilient and Inclusive Cities melalui United Cities and Local Government Asia-Pacific, dengan tematik "Early Warning System" berlanjut hingga tahun 2025, dengan bentuk komitmen yang telah dilakukan, meliputi:
Pengintegrasian ketahanan iklim dan rendah karbon ke dalam dokumen RPJMD Kota Ternate 2021-2026 dan RPJPD Kota Ternate tahun 2025-2045.
Penyusunan dokumen rencana aksi perubahan iklim yang meliputi rencana aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
Keputusan Walikota Ternate Nomor 39.A/III.2/KT/2022 Tentang Perubahan Atas Keputusan Walikota Ternate Nomor 58/111.2/KT/2022 Tentang Tim Koordinasi Ketahanan Iklim Kota Ternate Tahun 2021-2025.
Program kampung pro iklim Kota Ternate telah dilaksanakan pada 1 kelurahan yaitu Kelurahan Moya. Selain program kampung iklim Kota Ternate memiliki program kelurahan tangguh bencana yang telah dilaksanakan di Kota Ternate.
Dalam RPJMD Kota Ternate tahun 2021 2026 dan RPJPD Kota Ternate tahun 2025-2045 isu berketahanan iklim dan rendah karbon masuk pada indikator kinerja.
Peningkatan kapasitas, penguatan regulasi dan komitmen serta rencana penyusunan aksi-aksi untuk perubahan iklim menjadi kunci keberhasilan, sebagai bagian dari praktek baik dan komitmen Pemerintah Kota Ternate.
Bencana Banjir Bandang Rua Kronologis Proses kejadian banjir bandang Rua, merupakan akumulasi dari kejadian "hidrometerologi" beberapa waktu sebelumnya (3-6 Bulan sebelum bahkan bisa tahunan), hal ini terlihat pada material di hulu sungai yang merupakan material rombakan yang tidak solid, sebagai karakter batuan produk letusan Gunung Gamalama di ketinggian tertentu yang terkoneksi langsung ke sungai Rua, yang mengalami longsoran dan tertimbun di badan sungai dengan ukuran material dari batupasir ukuran kasar - boulder dan bongkah.
Penumpukan material di badan sungai ini menjadi hal yang membedakan untuk proses kejadian banjir bandang rua (membutuhkan waktu yang lama dan media untuk pengendapan).
Material tersebut mengalami proses transportasi (bergerak ke hilir),dengan pemicu pada waktu itu yaitu curah hujan intensitas sedang dengan durasi yang lama. Aliran material rombakan bergerak turun mengikuti arah kemiringan lereng sungai dan "meng-aktivasi" jalur sungai yang lama, pada lokasi RT 01 dan RT 02.
Penanganan Tanggap Darurat (Tahap I dan Tahap II) dan Transisi Darurat, yang di lakukan beberapa giat yaitu:
Proses pencarian terhadap korban hilang, selama 8 hari dengan total jumlah korban yang meninggal dunia 19 jiwa, di koordinir oleh Kantor SAR Ternate.
Penanganan pengungsi, yang berlokasi di SMK Negeri 4 sejumlah 239 Jiwa.
Penanganan psikososial di titik pengungsian bersama relawan psikososial. Pendistribusian bantuan ke pengungsi. Normalisasi sungai oleh Balai Wilayah Sungai bersama Pemerintah Kota Ternate. Kajian Cepat Kebutuhan Pasca Bencana (JITUPASNA). Melakukan delienasi kawasan yang tidak boleh ada pemukiman warga. Perencanaan Hunian Tetap setelah proses relokasi warga terdampak. Evakuasi korban ke Hunian Sementara, berlokasi di Asrama Halmahera Timur dan Rusunawa STIKIP Kieraha.
Langkah ke depan yang di rencanakan sebagai upaya pengurangan nilai risiko bencana, beberapa kegiatan yang dilakukan dengan bentuk kolaborasi lintas sektor bersama pemerintah kota Ternate, yaitu:
Pemetaan detail kawasan rawan bencana (mikrozonasi) di Kelurahan Rua maupun di kawasan lainnya yang terkoneksi langsung sungai atau "Gawir" puncak Gunung Gamalama. Kemudian, pemasangan Erly Warning System di beberapa kawasan tertentu berdasar pada tingkat rasio sesuai dengan kajian mikrozonasi.
"Edukasi ke masyarakat sekitar kawasan terkait potensi ancaman banjir bandang sebagai bagian dari Early Warning System. Pembangunan sempadan sungai yang dilaksanakan oleh Balai Wilayah Sungai dan Pemerintah Kota Ternate (Mitigasi Struktural). Pembangunan Sab Dam oleh Balai Wilayah Sungai Maluku Utara (Mitigasi Struktural)," tandasnya.
(ier)