Home / Opini

''SAMPAH; MEMILIH SEHAT atau SAKIT''

11 Februari 2021
Yazhar Asis, SKM

Dalam kehidupan ummat manusia baik di darat, laut maupun di udara senantiasa tak lepas dari aktifitas yang berhubngan langsung dengan sampah. Pada dasarnya setiap orang menghasilkan sampah, tetapi masalahnya adalah tidak setiap orang mau dan rela menyempatkan waktunya ke tempat sampah.

Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia atau proses alam yang berbentuk padat. Jenis sampah bisa kita bedakan yakni sampah rumah tangga dan sampah spesifik. 

Sampah rumah tangga adalah sampah yang berasal dari kegiatan sehari-hari rumah tangga, tidak termasuk tinja, jenis sampah rumah tangga adalah sampah yang berasal dari kawasan komersial, kawasan industry, kawasan khusus, fasilitas social, fasilitas umum, dan atau fasilitas lainya. Sedangkan sampah spesifik adalah sampah yang yang mengandung B-3 dan limbah B-3 (Bahan Berbahaya & Beracun), jenisnya seperti batrei bekas, lampu TL dan Bohlam, oli bekas, Aki bekas dan lainya, yakni sampah yang timbul akibat bencana, puing-puing bongkaran bangunan, sampah yang secara teknologi belum dapat di olah atau sampah yang timbul secara tidak periodik.(UUD No 18 Tahun 2008).

Sirkulasi kehidupan manusia tentunya membutuhkan suasana alamiah yang sejuk dan nyaman, hanya saja dalam upaya pengelolaan sampah kita sering di perhadapkan dengan perilaku orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan membuang sampah sembarangan. jika tidak di tangani secara baik maka sangat berdampak buruk bagi kesehatan manusia, bukan hanya pada persolan bau yang tak sedap. Tetapi bisa juga menyebabkan penyakit melalui dua cara 

1. Secara langsung yaitu ketika tubuh bersentuhan dengan sampah maka saat itulah bakteri, kuman, dan parasit akan berpindah ke tubuh.

2. sedangkan secara tidak langsung adalah penyakit dapat dibawa oleh hewan vector seperti: tikus, lalat, kecoak dan nyamuk, hewan ini dapat menjadi perantara virus, bakteri atau cacing untuk masuk ke tubuh, dan beberapa jenis penyakit seperti tetanus, hepatitis A, demam berdarah, keracunan makanan, infeksi kulit, adalah akibat membuang sampah sembarangan.

Dilematis kita hari ini adalah peningkatan jumlah penduduk seiring dengan meningkatnya jumlah sampah setiap hari. Peningkatan jumlah penduduk juga menambah variasi dan pola konsumsi suatu kelompok masyarakat, dimana banyak yang  pola konsumsinya tidak berwawasan lingkungan, hal itu dapat di buktikan dengan penggunaan kemasan yang bersifat nonbiodegradable (tak dapat didaur ulang) yang masih tinggi seperti penggunaan kantong plastic, makan minuman kaleng, dan sebagainya. 

Sampah juga harus menjadi perhatian serius dari berbagai kalangan, bukan hanya tugas pemerintah saja melainkan juga Peran serta masyarakat, sebagaimana dalam pengelolaan sampah biasanya di angkut, di timbun, diolah, dan dibakar sebagai bentuk antisipasi mencegah penularan penyakit lebih-lebih lagi tidak sampai pada kejadian luar biasa (KLB). 

Masalah sampah sangat berpengaruh pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat, sebab sehat tidak hanya di pandang sebagai suatu hal yang secara kebetulan, melainkan diusahakan secara sistemtis untuk mecapai kesejatraan. Meski kesehatan merupakan hak segala bangsa (orang) dan setiap orang berhak menentukan pilihan pelayanan kesehatan yang bermutu bagi dirinya, hanya saja berbeda halnya dengan persolan sampah, sebab dampak dari membuang sampah sebarangan berlaku sacara universal (kepada semua orang).

Perkara penyakit tak bisa di negosisasi dalam kendali kekuasaan apapun, hukum kausalnya jika sakit harus berobat, dan jika berobat melibatkan personal ekonomis, lalu siapa yang akan bertangung jawab dengan dosa-dosa (kelalaian) yang tersistem, terlepas dari ego politik, kepentingan golongan, kelompok, ataupun personal, hakikatnya hidup adalah pilihan, memilih mengindap penyakit atau memilih hidup sehat, semua itu adalah hak asasi. Namun sebagai seorang manusia yang memiliki indra dan pikiran tantu pasti tau menentukan apa yang menjadi pilihan hidup, lebih lagi kepada orang yang di amanahkan menjadi pengelola dan penentu nasib banyak orang. Olehnya mencegah lebih baik dari pada mengobati, mencegah karena berpikir masing-masing untuk tetap konsisten pada kehidupan yang lebih baik dan lebih sehat, semua itu akan dapat di lakukan jika didasari dengan kesadaran dan tanggung jawab. (**)

 (penulis)


Reporter: Penulis