Home / Opini

Kenaikan Harga BBM, Melemahnya Nilai Rupiah, Serta Program MBG dan Koperasi Merah Putih

Oleh : MASDAR HI. AHMAD
13 Juni 2026
Masdar Hi Ahmad

SAAT ini Indonesia menghadapi berbagai tantangan ekonomi yang menjadi perhatian masyarakat luas. Di tengah kondisi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian, masyarakat harus berhadapan dengan kenaikan harga kebutuhan pokok, meningkatnya biaya hidup, serta melemahnya daya beli. Berbagai persoalan tersebut tidak dapat dilepaskan dari beberapa isu yang sedang berkembang, yaitu kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar, serta pelaksanaan program-program pemerintah yang membutuhkan anggaran besar seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih.

Kenaikan Harga BBM dan Dampaknya terhadap Perekonomian

BBM merupakan komponen vital dalam kehidupan modern. Hampir seluruh aktivitas ekonomi bergantung pada energi yang berasal dari BBM, baik untuk transportasi, distribusi barang, kegiatan industri, pertanian, perikanan, maupun sektor jasa. Oleh karena itu, setiap kenaikan harga BBM akan memberikan dampak yang luas terhadap seluruh lapisan masyarakat.

Kenaikan harga BBM biasanya memicu inflasi karena hampir seluruh barang dan jasa menggunakan transportasi dalam proses produksinya. Harga beras, minyak goreng, sayuran, ikan, daging, telur, dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya dapat meningkat secara bertahap. Bagi masyarakat kalangan menegah kebawah, kondisi ini sangat memberatkan karena pendapatan tidak bertambah sementara pengeluaran terus meningkat. Disisi lain pendapatan petani dalam hal ini adalah petani kelapa sangat merosot, harga pasarnya menurun drastis tidak berbanding lurus dengan naiknya harga bahan pokok atau kebutuhan rumah tangga. 

Menurut Mankiw (2018) dalam teori ekonomi makro, kenaikan harga energi seperti BBM akan meningkatkan biaya produksi dan distribusi barang sehingga berpotensi mendorong inflasi. Ketika inflasi meningkat, daya beli masyarakat cenderung menurun karena harga barang dan jasa menjadi lebih mahal. Dalam kondisi seperti ini, kelompok masyarakat berpenghasilan rendah biasanya menjadi pihak yang paling terdampak karena sebagian besar pendapatannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok. Oleh karena itu, kenaikan harga BBM tidak hanya menjadi persoalan energi, tetapi juga berimplikasi pada stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Selain itu, kenaikan harga BBM juga berpotensi meningkatkan angka kemiskinan apabila tidak diimbangi dengan program perlindungan sosial yang memadai. Kelompok masyarakat miskin dan rentan miskin menjadi pihak yang paling terdampak karena kemampuan mereka untuk menyesuaikan diri terhadap kenaikan harga sangat terbatas.

Melemahnya Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar 

Selain persoalan BBM, melemahnya nilai tukar rupiah juga menjadi perhatian para ekonom. Menurut Michael P. Todaro dan Stephen C. Smith, stabilitas nilai tukar merupakan salah satu indikator penting dalam menjaga ketahanan ekonomi suatu negara. Ketika rupiah melemah, biaya impor bahan baku, mesin, dan berbagai kebutuhan industri menjadi lebih mahal. Kondisi ini dapat meningkatkan biaya produksi dalam negeri dan pada akhirnya memengaruhi harga barang di pasar. Di samping itu, pelemahan rupiah juga meningkatkan beban pembayaran utang luar negeri yang menggunakan mata uang asing. Semakin besar tekanan terhadap nilai tukar, semakin besar pula tantangan yang dihadapi pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Masyarakat juga dihadapkan pada melemahnya nilai tukar rupiah. Nilai tukar merupakan salah satu indikator penting yang mencerminkan kesehatan ekonomi suatu negara. Ketika rupiah melemah terhadap dolar, maka berbagai konsekuensi ekonomi akan muncul.

Indonesia masih bergantung pada impor untuk berbagai kebutuhan, termasuk bahan baku industri, mesin, alat kesehatan, teknologi, dan sebagian kebutuhan energi. Ketika rupiah melemah, harga barang impor menjadi lebih mahal. Industri dalam negeri harus mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk memperoleh bahan baku sehingga biaya produksi meningkat.

Peningkatan biaya produksi tersebut sering kali diteruskan kepada konsumen dalam bentuk kenaikan harga barang. Akibatnya, masyarakat kembali menghadapi tekanan inflasi yang semakin memperburuk daya beli.

Melemahnya rupiah juga berdampak terhadap pembayaran utang luar negeri. Pemerintah maupun perusahaan yang memiliki kewajiban dalam mata uang asing harus menyediakan lebih banyak rupiah untuk membayar cicilan pokok maupun bunga utang. Kondisi ini dapat meningkatkan tekanan terhadap APBN dan mengurangi ruang fiskal yang tersedia untuk pembangunan.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Beban Anggaran Negara

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu program prioritas pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi peserta didik di seluruh Indonesia. Program ini dilandasi oleh keinginan untuk menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif sebagai modal pembangunan bangsa di masa depan.

Secara konsep, MBG memiliki tujuan yang sangat mulia. Masalah gizi, stunting, dan ketimpangan akses terhadap makanan sehat masih menjadi tantangan di berbagai daerah. Dengan menyediakan makanan bergizi secara rutin, pemerintah berharap kualitas kesehatan dan kemampuan belajar anak-anak Indonesia dapat meningkat.

Namun demikian, program ini membutuhkan anggaran yang sangat besar. Dengan jumlah sasaran yang mencapai puluhan juta penerima manfaat, biaya operasional yang diperlukan setiap tahun diperkirakan mencapai ratusan triliun rupiah. Anggaran tersebut mencakup pengadaan bahan makanan, distribusi, tenaga pelaksana, pengawasan, hingga infrastruktur pendukung.

Di tengah kondisi ekonomi yang sedang menghadapi tekanan akibat kenaikan harga BBM dan pelemahan rupiah, sebagian pengamat ekonomi mempertanyakan kemampuan negara untuk membiayai program sebesar ini secara berkelanjutan. Mereka khawatir bahwa apabila pendapatan negara tidak meningkat secara signifikan, maka pembiayaan MBG dapat memperbesar defisit anggaran atau meningkatkan kebutuhan utang pemerintah.

Koperasi Merah Putih dan Potensi Menjadi Beban Fiskal

Selain MBG, pemerintah juga meluncurkan Program Koperasi Merah Putih sebagai upaya memperkuat ekonomi masyarakat melalui koperasi di tingkat desa dan kelurahan. Program ini bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, meningkatkan akses pembiayaan, memperkuat distribusi barang, serta menciptakan peluang usaha baru bagi masyarakat.

Secara teori, koperasi merupakan instrumen ekonomi yang sangat baik karena mengutamakan prinsip kebersamaan, partisipasi anggota, dan pemerataan manfaat ekonomi. Namun keberhasilan koperasi sangat bergantung pada kualitas manajemen, kompetensi pengurus, serta partisipasi aktif anggota.

Program Koperasi Merah Putih membutuhkan dukungan anggaran yang tidak sedikit. Pemerintah harus menyediakan dana untuk pembentukan koperasi, pelatihan sumber daya manusia, pengembangan sistem administrasi, bantuan modal, serta pengawasan dan pendampingan.

Sejumlah ekonom mengingatkan bahwa pembentukan koperasi secara masif tanpa persiapan yang matang dapat menimbulkan berbagai risiko. Banyak koperasi di masa lalu mengalami kegagalan karena lemahnya tata kelola, rendahnya profesionalisme pengurus, dan kurangnya aktivitas usaha yang produktif.

Apabila koperasi yang dibentuk tidak mampu mandiri secara finansial dan terus bergantung pada bantuan pemerintah, maka program ini berpotensi menjadi beban fiskal jangka panjang. Dana yang seharusnya dapat digunakan untuk sektor lain terpaksa dialokasikan untuk mempertahankan operasional koperasi yang tidak berkembang.

Akumulasi Beban terhadap APBN

Jika dilihat secara keseluruhan, kenaikan harga BBM, pelemahan rupiah, MBG, dan Koperasi Merah Putih menciptakan tantangan yang kompleks bagi pengelolaan keuangan negara. Di satu sisi, pemerintah harus menjaga stabilitas ekonomi dan melindungi masyarakat dari tekanan inflasi. Di sisi lain, pemerintah juga harus membiayai berbagai program pembangunan yang membutuhkan dana besar.

APBN menghadapi tekanan dari berbagai arah. Pendapatan negara harus mampu membiayai belanja rutin, pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, subsidi energi, bantuan sosial, pembayaran utang, serta program-program prioritas baru. Apabila pengeluaran terus meningkat tanpa diimbangi kenaikan pendapatan yang memadai, maka defisit anggaran dapat semakin besar.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat dan pengamat ekonomi mengenai keberlanjutan fiskal Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan yang matang, prioritas anggaran yang jelas, serta evaluasi berkala terhadap seluruh program pemerintah agar manfaat yang diperoleh benar-benar sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.

 (penulis)


Reporter: Penulis
Editor: Redaksi

BERITA TERKAIT