17 Februari 2019

Dosa Besar Mahasiswa

Oleh : Sofyan Togubu

Tulisan ini bakal membuat berbagai persepsi yang muncul di benak mahasiswa,  mungkin berpandangan tulisan  ini mempojok mahasiswa. Namun,  sebelum berpikir demikian penulis mengatakan "tidak" sebab, saya juga berawal dari yang namanya mahasiswa hanya saja penulis ingin membagi pengalaman sesuai dengan realitas  yang ada Maluku Utara khusunya di Kota Ternate. Jadikanlah tulisan ini sebagai intropeksi diri jika tidak sesuai dengan  apa yang diulas penulis maka ditingkatkan perkembangan dir. Tapi  jika itu benar segeralah memperbaiki diri menuju masa depan yang lebih baik.

ARUS globalisasi dan modernisme buta yang “mengikis” budaya mahasiswa. Konon mahasiswa sebagai  iron stock menjadi manusia-manusia yang memiliki kemampuan dan ahlak yang mulia, sebagai agent of change  (agen perubahan), kita sebagai mahasiswa juga berperan sebagai agen perubahan untuk masyarakat, guardian of value berperan sebagai penjaga nilai-nilai. Nilai-nilai tersebut bukanlah negatif  malainkan positif,  mahasiswa sebagai moral force berperan sebagai kekuatan moral, gelar moral force ini diberikan kepada kita sebagai mahasiswa oleh masyarakat, sebab kitalah yang akan menjadi kekuatan moral untuk negeri dan yang selanjutnya social control  harus berperan sebagai pengontrol kehidupan sosial.  Olehnya itu, jika gelar yang diemban oleh mahasiswa tidak kita indahkan maka tentu kita mendapatkan dosa besar.

Direktur Utama Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) Tuntas Cabang Semarang Hamidulloh Ibda sekaligus penulis itu berpendapat, dosa besar mahasiswa adalah malas belajar, membaca, diskusi, dan malas menulis. Jika demikian mana mungkin bisa melakukan apa yang diharapkan masyarakat, sementara kapasitas intelektual masih diragukan.

Hal senada disampaikan juga M Abdullah Badri, dalam artikelnya yang dimuat  Suara Merdeka edisi 25 September 2010 lalu menjelaskan, setidaknya ada empat dosa besar mahasiswa yang harus ditaubati dalam bahasa peradaban.

Pertama, tidak suka membaca. Mahasiswa akan kehilangan wajah peradaban (agent social of change), kalau membaca hanya ritus periodik yang terpaksa ditekuni kala mengerjakan tugas kuliah saja. Pandangan umum, mahasiswa adalah makhluk canggih yang paham segala apa dari siapa. Tapi karena membaca bukan tradisi baginya, ia tak ubahnya keledai yang membawa kertas-kertas bertumpuk ke manapun di pundaknya. Ia orang yang digadang sebagai pembaru, tapi awam sekali dengan gagasan pembaharuan, karena malas membaca.

Kedua, enggan berdiskusi. Mungkin saja seorang mahasiswa suka membaca. Mungkin pula dia tahu banyak hal yang dia baca. Namun, tanpa diskusi sebagai pelengkap wacana, apalagi dengan orang lain yang berseberang pemikiran, ia akan menjadi “kambing jantan” di kandang sendiri. Pemikirannya yang menumpuk, unek-uneknya yang seabrek, tak pernah terkena cuaca dan iklim luar. Pemikiran yang “dilemari eskan” akan membeku dalam pembenaran tanpa nalar, kekuasaan tanpa pelayanan. Maunya menang sendiri, karena diskusi dianggap mencemari pemikiran diri.

Ketiga, malas bersosialisasi. Sombong banget mahasiswa yang berpuas pada dirinya saja. Hanya. Dia tidak mau bergaul dengan selain komunitasnya. Ekslusifitas yang dibiasakan membuat ia tak mengenal lingkungan, apalagi dunia luar yang acapkali berbeda dari bayangan imajinasinya. Saya ingat betul petuah guru: kalau kamu kuliah, perbanyaklah teman, belajar hanya formalitas yang tak boleh ditinggalkan. Tanpa koneksi, produk pendidikan perguruan tinggi hanya akan menjadi “sampah”.

Keempat, malas menulis. Tradisi ini yang nempaknya belum menjadi gejala akademik yang memuaskan. Banyak mahasiswa kita yang pandai bersilat lidah, tapi meludahkan pemikirannya dalam bahasa tulis kepayahan. Cara berkelitnya banyak; tidak berbakat, tak ada waktu, hingga berkata dengan percaya diri: hanya orang-orang tertentu saja yang diberkati hidayah menulis. Walhasil, para mahasiswa budiman yang suka membaca tapi tak nya karya, ia menjadi intelektual oral jalanan, yang suka bicara (berkhutbah) di mana-mana, punya pengikut banyak, tapi hanya di kandangnya sendiri. Begitu berhadapan dengan orang lain di luar sana, ia seperti mahasiswa semester awal yang baru saja melepas seragam OSPEK. Awam.

Dari dua pendapat itu dan sesuai dengan realitas saya melihat ada benarnya yang terjadi di mahasiswa kini, walaupun belum ada data secara valid soal itu.

Pembersihan

Dari  dosa besar mahasiswa itulah yang harus dibersihkan dari kultur akademik. Ini juga menjadi tangung jawab universitas tertentu jangan hanya  promosi  univeritasnya saja namun juga  mendorong kreasi peserta didiknya. Mungin diadakan pertobatan   secara massal agar tak diwarisi oleh generasinya. Semoga tulisan sederhana  ini bermanfaat*(red)