TIDORE, OT- Pemerintah Kota Tidore Kepulauan, melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) siap menggelar Hari Jadi Tidore (HJT) ke 918.
HJT diperingati setiap tahun, pada 12 April, kegiatan ini menandai sejarah panjang Tidore, yang berdiri jauh sebelum terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indoneisa (NKRI). Perayaan HJT ke 918 di Tahun 2026 ini, bertema "Merawat Tradisi, Mempertegas Jati Diri Bangsa Maritim,"
Kepala Disbudpar Kota Tidore Daud Muhammad mengatakan, perayaan HJT kali ini terdapat sedikit perubahan proses ritual adat, jika dibandingkan dengan HJT Ke 917, Tahun 2025.
Perubahan tersebut dimulai dari ritual adat Kota Tupa dan Dawaro Munara, ritual ini adalah proses pengantaran sesajin sekaligus meminta izin kepada pihak Kesultanan untuk dimulainya rangkaian acara Hari Jadi Tidore.
Pada tahun sebelumnya, Tupa diantar oleh Disbudpar ke Gimalaha Tomayou yang ada di Kelurahan Gamtufkange. Namun kali ini, Disbudpar akan mengantar Tupa secara langsung ke Kedaton Kesultanan Tidore.
"Hari ini, sabtu dini hari kami dari Pemerintah Kota sudah akan mengantar Tupa ke Kedaton," ungkap Daud Muhammad, Sabtu, (4/4/26).
Setelah dari Kedaton, Daud menjelaskan, Tupa akan dibawa oleh Bobato Kesultanan untuk menuju ke Kananga Mabopo yang terletak di perbatasan Kelurahan Gamtufkange dan Soasio.
Tupa kemudian diserahkan kepada Gimalaha Tomayou untuk disemayamkan (Soidu) selama satu malam di rumah Gimalaha Tomayou, Kelurahan Gamtufkange. Rumah ini dikenal dengan sebutan Alina permata Faralom Gam Nnyili Gamtufkange.
Setelah itu, pada Minggu, 5 April 2026, Tupa tersebut akan diantar ke Rumah adat milik Lima Marga (Tomayou Soa Ramtoha), Rumah adat ini terdiri dari 2 Rumah berada di Kelurahan Tambula, 1 Rumah di Kelurahan Folarora dan 2 Rumah di Kelurahan Gurabunga.
Selain Kota Tupa, Ritual Ake Dango (Air Bambu) juga terdapat perbedaan proses pengantaran, jika di Tahun sebelumnya, Ake Dango diantar oleh anak cucu Tomayou Soa Ramtoha dari Kelurahan Gurabunga langsung ke Kedaton, kali ini prosesnya telah dirubah.
Ake Dango, sebelum diantar ke kedaton, anak cucu Tomayou Soa Ramtoha mengantarnya ke Alina permata Faralom Gam Nnyili Gamtufkange. Selanjutnya, Ake Dango ini akan dibawa oleh Gimalaha Tomayou menuju ke Kananga Mabopo untuk dijemput oleh Soa Raha, dan Soa Raha membawanya ke Kedaton untuk diserahkan ke pihak Bobato Kesultanan.
"Kalau dulu itu Ake Dango dibawa dari Gurabunga langsung ke kedaton, tapi kali ini sudah tidak lagi seperti itu. Proses pengantaran ake dango akan dilakukan pada tanggal 8 April 2026," pungkasnya.
Sementara terkait dengan ritual adat lainnya seperti Lufu Kie atau Parade Armada Kesultanan, Kata Daud, tidak ada perubahan, hanya saja beberapa acara lainnya seperti Dama Nyili-Nyili dan Pameran, terpaksa depending karena persoalan efisiensi anggaran, sebab di tahun 2026 ini, terdapat pemangkasan Dana Transfer Ke Daerah (TKD) oleh Pemerintah Pusat.
"Untuk kegiatan Lufu Kie dilakukan pada tanggal 9 April 2026, kegiatan ini akan menggunakan Armada Laut sebanyak 23 Unit, teridiri dari 12 Juanga, 1 Kagunga milik Sultan, dan 10 Armada Speed Boat yang disiapkan SKPD untuk mendukung kegiatan tersebut, Perayaan ini menjadi ajang peenting untuk merawat tradisi dan mempertegas jati diri bangsa maritim," jelasnya.
Setelah dilakukan ritual Lufu Kie, lanjut Daud, baru akan dilanjutkan dengan Pengajian Ratib Hadad yang dipusatkan di Kedaton Kesultanan Tidore pada Jumat, 10 April 2026, ritual ini dilaksanakan selesai ba'da Isya. Selanjutnya, pada 12 April 2026, baru dilakukan upacara puncak HJT ke 918 di Kedaton Kesultanan Tidore.
"Untuk tamu undangan ini, terdiri dari Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku Utara, Bupati Halteng dan Haltim, Wali Kota Ternate, Wakil Bupati Seram, Tiga Kesultanan di Maluku Utara yakni Bacan, Ternate dan Jailolo, ditambah dengan bebeberapa Direktur dari Kementerian Ekonomi Kreatif," tandasnya.
(Rayyan)


















