HALBAR, OT - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Provinsi Maluku Utara, Meri Popala, pada Kamis (2/4/2026) meninjau kondisi dan situasi pengungsian di wilayah jalan trasn Sidangoli-Jailolo tepatnya Gunung Manyasal.
Sejumlah warga Halbar utamanya yang mendiami kawasan pesisir mengungsi setelah wilayah tersebut diguncang gampa berkekuatan magnitudo 7,6 SR.
Sebelumnya Status potensi tsunami yang sempat dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memicu kepanikan warga, khususnya di Kota Ternate dan Kabupaten Halmahera Barat.
Di Halmahera Barat, dampak psikologis gempa tersebut terlihat jelas dari keputusan warga di dua desa, yakni Desa Tuada dan Desa Todowongi, Kecamatan Jailolo, yang memilih mengungsi secara mandiri ke Gunung Manyasal. Langkah ini diambil sebagai bentuk antisipasi terhadap kemungkinan gempa susulan yang masih membayangi.
Olehnya itu, Anggota DPRD Provinsi Maluku Utara Daerah Pemilihan I Ternate–Halmahera Barat, Meri Popala, turun langsung meninjau lokasi pengungsian pada Kamis (2/4/2026), usai melakukan agenda kunjungan kerja Komisi III di wilayah setempat. Kehadirannya menjadi bentuk respons cepat terhadap situasi darurat yang dihadapi masyarakat.
“kami dari Komisi III tadi melakukan kunjungan di Desa Akeara, dan saya mendapat informasi ada dua desa di Kecamatan Jailolo yang mengungsi di Gunung Manyasal, sehingga kami langsung berkunjung ke lokasi,”ujar Meri Popala.
Dalam kunjungannya, Meri tidak hanya melihat kondisi warga, tetapi juga menyalurkan bantuan berupa air minum sebagai kebutuhan mendesak di lokasi pengungsian. Bantuan tersebut diberikan di beberapa titik, termasuk pos pengungsian di wilayah Ulo.
“Dalam kunjungan tadi saya juga memberikan bantuan air minum atau aqua kepada warga, di pos pertama di Ulo juga kami salurkan bantuan yang sama untuk membantu kebutuhan dasar mereka,”katanya.
Selain bantuan logistik, Meri juga memberikan dukungan moril kepada para pengungsi agar tetap tenang dan tidak larut dalam kepanikan. Ia menegaskan pentingnya menjaga stabilitas psikologis di tengah situasi bencana, sembari terus mengikuti informasi resmi dari pihak berwenang.
“Kami juga memberikan penyemangat kepada warga agar tidak terlalu panik, serta mencoba memberikan pemahaman terkait kondisi saat ini,”ujarnya.
Meski demikian, upaya edukasi yang dilakukan belum sepenuhnya mampu menghilangkan rasa takut warga, Trauma terhadap potensi gempa susulan masih menjadi alasan utama mereka bertahan di lokasi pengungsian dan enggan kembali ke rumah masing-masing.
“Kami sudah mencoba memberikan pemahaman kepada warga yang mengungsi, namun mereka masih belum mau kembali ke rumah karena masih takut akan gempa susulan,”ungkapnya.
(deko)


















