TERNATE, OT – Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku Utara, Harim Arrosid, menyampaikan bahwa kinerja ekspor Provinsi Maluku Utara pada Juni 2026 menunjukkan tren positif.
Dalam Berita Resmi Statistik (BRS) yang dirilis pada 3 Agustus 2026, nilai ekspor Maluku Utara pada Juni 2026 tercatat mencapai US$1,464 miliar, meningkat 48,47 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, total nilai ekspor Maluku Utara selama Januari hingga Juni 2026 mencapai US$8,341 miliar atau tumbuh 21,80 persen dibandingkan semester pertama tahun 2025.
Komoditas Besi dan Baja (HS 72) masih menjadi penyumbang terbesar ekspor dengan nilai US$4,338 miliar, disusul Nikel (HS 75) sebesar US$3,132 miliar, serta Bahan Kimia Anorganik (HS 28) senilai US$422,17 juta. Ketiga komoditas tersebut menyumbang 94,62 persen terhadap total ekspor Maluku Utara selama Januari–Juni 2026.
Dari sisi pertumbuhan, komoditas nikel menjadi yang paling menonjol dengan kenaikan nilai ekspor mencapai US$1,102 miliar atau meningkat 54,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Selain itu, ekspor bahan kimia anorganik juga meningkat 54,77 persen, sementara aluminium mulai memberikan kontribusi terhadap peningkatan nilai ekspor daerah.
Untuk negara tujuan, Tiongkok masih menjadi pasar utama ekspor Maluku Utara dengan nilai transaksi mencapai US$7,616 miliar atau sekitar 91,30 persen dari total ekspor. Selanjutnya diikuti Korea Selatan sebesar US$178,47 juta, Turki US$159,04 juta, Jepang US$154,53 juta, dan Kroasia US$85,74 juta.
Di sisi lain, nilai impor Maluku Utara pada Juni 2026 juga mengalami peningkatan menjadi US$757,83 juta, atau naik 35,16 persen dibandingkan Juni 2025. Secara kumulatif, nilai impor selama Januari–Juni 2026 tercatat US$3,582 miliar, meningkat 35,55 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Komoditas impor terbesar masih didominasi kelompok Garam, Belerang, dan Kapur (HS 25) dengan nilai US$887,08 juta, diikuti Mesin-mesin/Pesawat Mekanik (HS 84) sebesar US$662,65 juta, serta Bahan Bakar Mineral (HS 27) senilai US$581,61 juta. Adapun negara asal impor terbesar adalah Tiongkok dengan kontribusi 54,87 persen, disusul Filipina dan Arab Saudi.
Meski impor mengalami peningkatan, neraca perdagangan Maluku Utara tetap mencatatkan surplus yang cukup besar. Selama Januari–Juni 2026, surplus perdagangan mencapai US$4,758 miliar, sedangkan pada Juni 2026 saja surplus tercatat sebesar US$706,32 juta. Kondisi tersebut menunjukkan kinerja perdagangan luar negeri Maluku Utara masih sangat kuat, terutama ditopang oleh tingginya ekspor komoditas berbasis pertambangan.
Apabila berita ini akan diterbitkan di media online, saya juga bisa mengubahnya menjadi gaya penulisan khas Jawa Pos, Kompas.com, atau Tempo yang lebih mengalir dan enak dibaca.
(ier)




