Home / Berita / Citizen Journalist

Di Era AI, Peneliti Asal Ternate Soroti Peristiwa Jimat di Indonesia

17 Juli 2026
Sumber gambar: Instagram Izal Samsudin

TERNATE, OT – Di tengah pesatnya adopsi teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam kehidupan modern, sebuah kontradiksi sosial budaya yang unik justru terekam pada masyarakat Muslim di Indonesia.

Walau terbiasa dengan kepraktisan teknologi digital, sebagian masyarakat nyatanya masih memegang teguh praktik tradisional, termasuk penggunaan jimat.

Kontras budaya yang menarik ini dibahas secara mendalam dalam sebuah riset ilmiah terbaru bertajuk "Belief or Disbelief? Unraveling the Meaning of the Use of Quranic Verses as Amulets in Indonesian Muslim Society"

Riset yang dimulai sejak tahun 2024 oleh Izal Samsudin, seorang peneliti sekaligus penulis asal Kota Ternate, kini resmi dipublikasikan di Jurnal Studi Al-Qur'an (JSQ), sebuah jurnal ilmiah nasional bereputasi yang terakreditasi SINTA 3 dan telah terindeks global.

Di saat teknologi AI mampu menyelesaikan berbagai persoalan rumit secara logis dan instan, sebagian orang justru masih mempercayakan perlindungan, keselamatan, hingga keberuntungan mereka pada benda mistis.

Salah satu bentuk yang jamak ditemui adalah rajah atau potongan ayat Al-Qur'an yang dialihfungsikan sebagai jimat. Riset ini bertujuan mengulik pergeseran makna teks suci, dari yang semula merupakan pedoman hidup menjadi objek yang dianggap memiliki kekuatan gaib, sekaligus meneropong dampak sosiologis dan teologisnya di zaman modern.

Dari sudut pandang ilmiah, Izal menilai kekuatan benda tersebut sebenarnya tidak riil secara magis. "Pada dasarnya, jimat hanyalah sebuah bentuk sugesti yang memberikan efek psikologis bagi penggunanya, menciptakan rasa aman atau percaya diri yang semu," ujar Izal.

Supaya menghasilkan data yang sahih, Izal menerapkan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan terhadap teks-teks klasik dan fatwa ulama.

Langkah ini diperkuat dengan observasi lapangan guna melihat langsung proses pembuatan, penyebaran, serta bagaimana jimat tersebut diyakini oleh para penggunanya sehari-hari.

Temuan di lapangan kemudian dianalisis secara kritis menggunakan perspektif teologi Islam yang berpusat pada konsep Tauhid atau monoteisme.

"Ritual dalam membuat jimat ini sangat beragam; ada yang berada di level rendah berupa amalan ringan, namun ada pula yang ekstrem bahkan sampai membahayakan nyawa pelakunya," ungkap Izal.

Hasil kajian tersebut memperlihatkan adanya batas yang sangat tipis antara bentuk ekspresi keimanan seperti tabarruk atau ikhtiar mengambil berkah dari Al-Qur'an dengan potensi terjatuh pada dosa syirik, yang mana hal ini sangat bergantung pada niat dan keyakinan di dalam hati si pengguna.

Di ranah hukum Islam sendiri, Izal memaparkan bahwa para ulama terbagi menjadi dua pandangan utama. Kelompok pertama melarang penggunaan jimat secara mutlak demi menjaga kemurnian tauhid.

Sementara kelompok kedua memberikan kelonggaran dengan syarat yang sangat ketat, seperti wajib meyakini bahwa perlindungan mutlak hanya datang dari Allah, serta ayat tersebut harus dibaca dan diamalkan, bukan sekadar disimpan di dalam saku atau dompet.

Merespons temuan risetnya, Izal Samsudin mengingatkan pentingnya perubahan pola pikir (mindset), khususnya bagi generasi muda Muslim saat ini. Menurutnya, pada era di mana rasionalitas dan AI menjadi panglima, ketajaman berpikir kritis sangat dibutuhkan agar masyarakat tidak tersesat dalam praktik mistisisme yang keliru.

Jika edukasi ini mandek, ia khawatir masyarakat akan terus terjebak dalam pola pikir kuno. "Kepercayaan mistis seperti ini akan terus berkembang subur di tengah masyarakat jika tidak ada orang yang bergerak untuk mengajarkan dan mengarahkan manusia agar berpikir secara rasional," tegasnya.

Dalam pembahasan risetnya ia lebih meneliti mengenai Ayat-ayat Al-Qur'an yang di jadikan jimat serta macam-macam jimat.

"Kita sebagai umat Islam harus lebih kritis dan rasional dalam mengkaji Islam supaya tidak terikat dengan hal mistis," tambah Izal.

Selain aktif mempublikasikan jurnal ilmiah, pemuda asal Ternate yang juga dikenal lewat e-book populernya "Pendidikan Rusak" di Google Books ini berharap, artikel ilmiahnya di JSQ dapat memantik diskusi yang lebih sehat, rasional, serta mampu meningkatkan literasi di tengah masyarakat Indonesia secara luas.

 (fight)


Reporter: Gibran

BERITA TERKAIT