Home / Budaya

Cokaiba, Tradisi Yang Masih Dipertahankan Anak Cucu Potons

29 Desember 2017

TERNATE, OT - Saat proses pelantikan pengurus partai Hanura dan deklarasi pasangan calon gubernur H Burhan Abdurahman dan wakil gubernur Ishak Jamaludin beberapa waktu lalu, di lapangan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Bastiong, sejumlah pemuda asal Patani ikut meramaikan dengan menampilkan sebuah tradisi yang dikenal dengan Mef atau orang lebih suka menyebutnya dengan Cokaiba.

Cokaiba dan ritual Maulur adalah tradisi asli Maba, Patani, Weda atau disebut Bumi Fagogoru yang saat ini menjadi dua daerah otonom, yang dibagi atas negeri Obon atau Maba menjadi Kabupaten Halmaheha Timur, negeri Foton atau Patani dan Negeri Wereng atau Weda yang saat ini menjadi bagian dari Kabupaten Halmahera Tengah di provinsi Maluku Utara.

Tradisi ini adalah tradisi yang paling unik, sebab para pelakon atau pemain Cokaiba menggunakan topeng dengan carakter yang berbeda.

Menurut tuturan sejarah lisan tradisi dan ritual ini mulai dilakukan pada zaman Rajaman. Pada periode awal masuknya Agama Islam dipesisir Timur Halmahera sekitar tahun 1100 Masehi. Rajaman adalah pemimpin atau Raja-raja Di pesisir Timur Halmahera, Maba, Patani, Weda.

Yaitu Rajaman Satrio penguasa di Maba, Rajaman Kasuro penguasa Di Patani dan Rajaman Suta Raja Mauraja penguasa di Weda. Sebagaimana dikutip dari Naskah Buku Mef Nama Asli Cokaiba Abd, Samad Addin.

Filosofi tradisi Mef atau Cokaiba ini menggambarkan keindahan persahabatan sepanjag zaman atau semangat menerima perubahan zaman tanpa harus meninggalkan cerita kehidupan atau zaman sebelumnya.

Tarian atau tradisi asli Sangaji Photon atau Patani Halmahera Tengah ini, sengaja ditampilkan pada acara pelantikam dan deklarasi pasangan Bur Jadi, bertujuan untuk mempromosikan
adat budaya dan tradisi negeri Fagohoru kepada tamu undangan khususnya Ketua DPD RI, Oesman Sapta Odang serta tamu undangan yang menghadiri acara tersebut.

Selain itu, tarian ini juga ditampilkan untuk memperkenalkan kebudayaan Fagogoru kepada masyarakat Maluku Utara.

Para penari yang dilatih oleh Kamalludin Jalaludin itu merupakan putra puteri asli Patani yang saat ini tercatat sebagai mahasiswa/mahasiswi pada Perguruan Tinggi di Ternate dan berasal dari desa Kipai dan Waylegi.(thy)


Reporter: Fadli

BERITA TERKAIT