HALBAR, OT– Wilayah Ibu di Halmahera Barat tak lagi tenang. Hujan ekstrem yang mengguyur Rabu (7/1/2026) sejak dini hari berubah menjadi petaka saat air sungai meluap hebat, menerjang permukiman di tiga kecamatan sekaligus. Ibu, Ibu Selatan, dan Tabaru.
Banjir bandang dan tanah longsor ini melumpuhkan aktivitas warga serta menghanyutkan harta benda yang dikumpulkan bertahun-tahun.
Kapolsek Ibu, Ipda Imam Eko Akbar, menggambarkan betapa cepatnya air naik. Sejak pukul 07.30 WIT, dia bersama personelnya sudah berjibaku di tengah kepungan air untuk mengevakuasi warga. "Kami fokus pada penyelamatan jiwa dan barang berharga warga, sembari memastikan jalur evakuasi tetap terbuka," ujarnya.
Menurutnya, titik paling memprihatinkan terpantau di Kampung Cina, Desa Tongute Ternate Asal. Di sini, air bukan lagi sekadar genangan, melainkan bahaya setinggi satu hingga tiga meter. Intensitas air yang begitu kuat menyapu apa saja di jalurnya.
Dampaknya masif. Sektor ekonomi warga lumpuh seketika. Gudang kopra milik seorang pengusaha bernama Ko Hengki hanyut terbawa arus, menyebabkan kerugian ditaksir mencapai Rp500 juta. Nasib serupa menimpa usaha sembako milik Hj. Amba dengan kerugian mencapai Rp600 juta. Bahkan, bangunan Pasar Ikan yang menjadi pusat niaga warga luluh lantak tersapu bah.
Di Desa Duono, dua rumah milik Barto Bani dan Niklas Jangu dilaporkan hilang total. Tak ada yang tersisa dari bangunan kayu itu; semuanya diseret arus hingga ke titik tak berbekas. Di pesisir, dua perahu nelayan di Desa Tongute Ternate pun ikut raib ditelan banjir, memutus mata pencaharian warga sementara waktu.
Penderitaan warga tak berhenti pada air. Di daratan, tanah mulai bergerak. Longsor terjadi di Desa Gamkonora, Ngawet, hingga Gunung Cengki. Material tanah dan bebatuan di Gunung Cengki menutup akses jalan utama, memutus urat nadi transportasi menuju wilayah Ibu Selatan. Kendaraan logistik dan pribadi terjebak, tak mampu menembus timbunan tanah yang licin.
Hingga pukul 12.00 WIT, bantuan dari Sat Samapta Polres Halmahera Barat dan Polairud tiba untuk memperkuat tim Tagana yang sudah lebih dulu berada di lapangan. Mereka bahu-membahu membersihkan batang pohon dan lumpur yang menyumbat jembatan di Desa Gamlamo menggunakan peralatan seadanya.
Menjelang sore pukul 15.50 WIT, meski air dilaporkan mulai surut, sisa-sisa kehancuran masih berserakan. Lumpur tebal dan potongan kayu memenuhi lantai rumah warga. Beruntung, sejauh ini belum ada laporan korban jiwa, meski kerugian materiel diprediksi menembus angka miliaran rupiah.
Polri kini menyiagakan personel di titik-titik rawan untuk mengantisipasi banjir susulan. "Cuaca masih tidak menentu. Kami meminta warga yang bermukim di bantaran sungai dan lereng bukit untuk tetap waspada dan segera mengungsi jika debit air kembali naik," kata Ipda Imam Eko.
Bagi warga Ibu, sore itu adalah awal dari proses panjang untuk memulihkan kembali sisa-sisa kehidupan yang sempat hanyut diterjang air.
(ier)









