Home / Opini

Persiter Sebagai Simbol Harga Diri

Oleh : Alfajri A. Rahman/Bendum KONI Kota Ternate
24 Juli 2026
Alfajri A. Rahman

Nyayian dan teriakan di tribun Gelora Kieraha (GK) Ternate,  akan kembali menjadi saksi sejarah. Sepak bola di Malut, Persiter berlaga di kasta tertinggi liga Indonesia. Persiter hadir di tengah-tengah redupnya Malut United setelah paska berpindah ke Jawa Tengah. Kehadiran Perister, tentunya membawa nyawa baru bagi para pencita sepak bola karena  sudah sekian tahun vakum setelah 2007-2008,  bermain di Liga  Indonesia. Ternate adalah gudangnya para atlit sepak bola yang pernah mengisi posisi timnas Indonesia dan klub ternama  di liga Indonesia, disana ada nama-nama pemain hebat yang muncul, seperti Rahmat Rivai, Fhandi Mochtar, Zulham Zamrud, Ahmad Sambiring, Firdaus Nyong, Qwetly Alweni, Safrudin Rasid dan masih banyak legenda Persiter bersinar zamanya.

Sebab, banyak yang tumbuh SBB sbagai bentuk adanya kesdaran bahwa sepak bola menjadi denyut nadi serta hiburan bagi masyarakat Malut. Hadirnya Persiter di kasta tertinggi membangkitkan semangat   para lengenda Persiter yang pernah berjaya di masanya. Para lengeda periter saat ini, mereka banyak mengambil lensi kepelatihan dalam rangka untuk menyiapkan stok di masa yang akan datang dan ini momentumnya  para legenda mencari bibit Persiter. Rasa keraguan pasti akan  muncul di benak para legenda termasuk pemangku kepentingan. Sebab mengurus sepak bola harus ada dukungan dana finasial yang cukup memadai apalagi larangan untuk tidak menggukankan APBD dalam membantu kegiatan Persiter. Dengan adanya efesiensi yang cukup,menjadi perhatian publik secara otomatis pemangkau kepentingan pasti berfikir lebih ekstrim dalam mengembalikan dan menghidupkan Persiter. Nyawa dan beban secara otomatis akan berpindah kepada para pemangku kepentingan dalam hal ini ketua umum Persiter sebagai wali kota Ternate. 

Perister  adalah klub bersejarah yang lahir dari  Ternate, yang dikenal degan julukan Laskar Kie Raha.Persiter memiliki basis supoter yang sangat militansi dan rekam jejang cukup panjang di kancah sepak bola nasional. Capaian Perister  di masa kejayanya Devisi   Utama Liga Indonesia tahun 2000-an. Bahkan  cerita yang sangat legenda bahwa “ Persiter   bukan sekadar sepak bola . Melainkan simbol harga diri dan Pemersatu  masyarakat Ternate,” 

Pengakuan ini,diceritakan  mantan pemain pernah bersinar dizamanya, yakni Safrudin Rasid, ingatan  bahwa Persiter  adalah klub sepak bola legendaris dan klub kebanggan rakyat Malut yang paling mendalam, dia bukan hanya  sekedar tim melaikan ikatan emosional yang kuat. Persiter tumbuh sebagai  simbol indenstitas persatuan dan kebanggan  seluruh warga.

Selama lebih enam decade,  Persiter menjadi rumah pertam bagi para pencari bakat emas dan talenta muda Malut, disisi lain Persiter juga pernah membuktikan  dan menghasilkan  banyak pemain bisa bersaing di kasta tertinggi  dan bisa dikatakan  salah satu “Pabrik Pemain’. Stadion GKR bukan hanya sekadar  sebuah bangunan beton dan rumput hijau. Namun  ia adalah tempat dimana anak-anak muda mengasah kemapuan dalam mengelolah si kuilit bundar, ribuan sorak sorai penontonyang memadati  tribun seakan-akan meraka ingin menyasksikan laga 1x24 jam,menanti kemenangan  Laskar Kie Raha, di GKR adalah tempat menyatukan hati para pendukung fanatik Perister di semua penjuru Halmahera, dimana sebuah perbedaan larut dan ikut dalam sebuah eforia bahasa universal sepak bola.

Di Persiter,  adalah simbol  kebanggan dengan penuh harapan agar Persiter bangkit dari keterpurukan finansial dan internal kepengurusan. Walaupun perjuangan mulai dari nol yakni liga 4, ini menjadi bukti nyata Persiter  hadir serta meramikan dinamika sepak bola. Impian kembali dikasta tertinggi harus berjuangan disemua level. Sebab, Persiter  bukanlah milik sekelompok atau segelintir orang, tapi Persiter milik masyarakat Maluku Utara, Perister hadir bukan atas kepentingan Politik,kehadiran Persiter sebagai wujud nyata kebangkitan sepak bola di timur Indonesia.

Nama besar Persiter menjadi cerita dan fatamorgana di anak cucu kita, jika kesempatan hanya datang kali ini lewat, momentum Bacarita Persiter memilik pesan moral bahwa ada niatan baik dan memperbaiki sejarah yang pernah diukir di kancah sepak bola. Gemuruh stadion akan kembali menjadi legenda, kembang api dan cacian bagi tim lawan terus di utarkan sebagai bentuk dukungan moril baik di dalam lapangan maupun di luar lapangan. 

Kita bisa berkaca di klub  sekelas Persib Bandung memiliki sejarah panjang dalam meniti karir sepak bola di tanah air. Persiter harus banyak belajar di klub kebanggan warga Bandung. Persib  Badung dengan nama besar, itu karena  diurus oleh orang-orang yang tidak ada niatan dalam menungangi cerita Politik, lewat tulisan singkat menjadi bahan evalusi serta kritikan jika mengurus Persiter harus lebih professional. Sebab ini berkaitan profit dalam sepak bola, semoga kebangkitan Persiter menajdi daya dobrak dan nyian di tribun.

 (penulis)


Reporter: Penulis

BERITA TERKAIT