16 Februari 2019

MENCIPTAKAN PANGGUNG EKSPRESI DOSEN

Oleh : Anfas (Dosen Fakultas Ekonomi / Direktur Universitas Terbuka Ternate)

Anfas

"Jika Anda ingin Mengenal Dunia, maka bacalah. Dan jika Anda ingin dikenal dunia, maka nulislah".   

Kurang lebih, demikian sepenggal kalimat penyemangat yang disampaikan Prof. Dr. Maximus Gorky Sembiring, M.Sc (biasa disapa Pak Oky), Kapus Keilmuan pada LPPM UT di acara pembukaan Pelatihan Penulisan Artikel Jurnal untuk Dosen UT. 

 Sebagai dosen, tentunya kami sangat bahagia dapat mengikuti pelatihan tersebut. Sebab bagi dosen di Wilayah Timur Indonesia, terutama di Ternate, momen tersebut sangat langkah. Jangankan pelatihan menulis artikel jurnal Internasional, pelatihan penulisan artikel populis di media massa saja, saya rasakan sangat kurang. 

Saya teringat, saat berdiskusi dengan salah satu wartawan Malut Post, dimana ia mengeluhkan tentang sulitnya dosen di Ternate untuk diajak menulis di Malut Post. Padahal Malut post, sebagai media cetak terbesar di Maluku Utara, sudah menyediakan satu rubrik khusus bagi dosen untuk menulis.

Namanya Rubrik Akademika. Melalui rubrik ini dosen diharapkan bisa memberikan materi kuliahnya atau bisa pula mempublikasikan hasil penelitiannya, sehingga dapat dishare ke masyarakat. Polanya mirip seperti MOOCs (Massive Online Open Courses) atau layanan belajar gratis lainnya yang saat ini sudah banyak kita temukan di internet. Namun rubrik Akademika versi Malut Post ini masih bersifat lokal, karena terbatas diakses masyarakat.  Penyampaian wartawan tersebut, membuat diri ini bertanya-tanya, benarkah kami dosen kurang berminat menulis? Ahh rasa-rasanya tidak juga. Sebab dari pengalaman saya sebagai dosen, banyak ide yang bisa ditulis.

Apalagi untuk media massa yang sistem penulisannya tidak sejelimet menulis di Jurnal. Butuh penguasaan metodologi dan sistematika penulisan. Dan tiap-tiap jurnal pasti sistematika penulisannya (gaya selingkungan) berbeda-beda dan  kita harus mengikutinya sesuai dengan prosedur atau ketentuannya.

Namun demikian, diri inipun secara “malu-malu” mengakui dalam hati bahwa memang untuk memulai menulis itu “sulit”. Tidak jarang ide sudah segudang di kepala, namun jari jemari ini tetap kaku untuk mengetiknya di Lapotop. Ada dua faktor yang menjadi problem dosen dalam menulis. Pertama, tidak percaya diri, sehingga pelatihan seperti di atas sangat perlu diperbanyak. Bahkan bukan hanya untuk dosen, namun juga untuk para mahasiswa.

Sehingga kelak ketika mereka menjadi dosen, meraka akan menjadi dosen yang doyan nulis.   Kedua, pemerintah harus menciptakan "Panggung" bagi dosen. Panggung itu bernama Jurnal. Karena bagi saya, dosen itu seperti artis (penyanyi). Jika artis ingin ngetop, harus bisa tampil diberbagai panggung (konser).

Demikian pula dosen. Jika kita ingin dosen banyak memiliki publikasi Ilmiah, maka jurnal kita pun harus banyak. Terutama jurnal-jurnal internasional.    Saat ini kita lihat buktinya. Sejak Kemenrisetdikti "mengeluarkan fatwa" publikasi ilmiah sebagai salah satu indikator kinerja Perguruan Tinggi (IKU), maka publikasi Indonesia meningkat drastis. Di tahun 2017 Publikasi Ilmiah Internasional Indonesia sudah mengungguli Thailand. Bahkan di tahum 2018 (sesuai data kemenristek dikti per 8 mei 2018), publikasi ilmiah internasional Indonesia telah mengungguli Singapura. Publikasi Ilmiah Internasional Indonesia mencapai 8.269 artikel jurnal. Sedangkan Singapura hanya berjumlah 6.853 artikel jurnal. Target selanjutnya, menurut Mentri Ristekdikti di 2020, Indonesia harus bisa mengungguli Malaysia, sehingga menjadi leader di ASEAN dalam publikasi  Ilmiah. Harapan kemenristekdikti tersebut memang sangat realistis, sebab dosen di Indonesia terbanyak di ASEAN, yakni mencapai 250 ribuan (jawapost.com). 

Namun, untuk mendukung "cita-cita mulia" di atas, pemerintah harus memberikan dukungan maksimal agar Perguruan Tinggi mampu “melahirkan” jurnal internasional bereputasi. Sebab saat ini, untuk mencari jurnal internasional bereputasi atau terindeks scopus milik Indonesia masihlah kecil jumlahnya d bandingkan dengan negara-negara lainnya di Asia.   Selain pemerintah, media massa (cetak/on line), juga penting untuk memberikan "panggung" bagi dosen. Rubrik-rubrik akademik, seperti halnya pada Malut Post yang sudah saya sampaikan di atas, harus diadakan untuk dosen, agar dapat mentransformasikan ilmunya, dari "bahasa ilmiah" di jurnal, menjadi "bahasa ibu" yang mudah dicernah oleh khalayak masyarakat. Jangan sampai hasil riset dosen hanya mentok di jurnal, namun juga dapat “dinikmati” masyarakat. 

Tahun lalu, bersama rekan dosen di Universitas khairun, kami melakukan penelitian tentang ekspektasi siswa SLTA dalam memilih Perguruan Tinggi. Salah satu yang kami tanyakan adalah faktor apa saja yang membuat meraka tertarik memilih sebuah Perguruan Tinggi? Salah satu jawaban yang dominan adalah faktor dosennya. Setelah kami gali lebih dalam, rupa-rupanya yang mereka maksud, bukan saja tentang kualitas dosennya saat mengajar.

Namun, termasuk di dalamnya yakni dosen tersebut terkenal di masyarakat, baik sebagai pengamat yang setiap saat tampil di media maupun sebagai penulis di berbagai media massa. Intinya Dosennya terkenal. Titik. Tidak pakai koma. 

“Jika Anda ingin dikenal dunia, maka nulislah”.

Mampuhkah diri ini? Semoga.

Yakin Usaha Sampai...(red)