TERNATE, OT - Warga di Maluku Utara menyerahkan secara sukarela 75 pucuk senjata api, 1.069 butir amunisi, serta satu butir granat tangan kepada jajaran TNI. Penyerahan barang berbahaya ini dipimpin langsung oleh Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XV/Pattimura Mayor Jenderal TNI Doddy Triwinarto dalam konferensi pers di Ternate.
Penyerahan puluhan senjata dan amunisi aktif ini menjadi bagian dari upaya pembersihan peredaran senjata ilegal di wilayah hukum Kodam XV/Pattimura.
Berdasarkan data resmi TNI, dari 75 pucuk senjata yang diterima, sebanyak 15 pucuk merupakan senjata api standar (organik). Jenisnya bervariasi, mulai dari senjata laras panjang tipe FNC, SMR, Bruno, Steyr, hingga Double Barrel. Selain itu, terdapat pistol standar jenis FN, Revolver, pistol pelontar gas air mata, hingga koleksi langka berupa dua pucuk pistol era kolonial Belanda bertanda VOC tahun 1771.
Sementara itu, 60 pucuk sisanya merupakan senjata rakitan, yang terdiri dari 41 unit laras panjang dan 19 unit pistol rakitan.
Untuk amunisi, TNI mengamankan total 1.069 butir yang terdiri dari 780 butir dan 134 butir amunisi kaliber 5,56 mm, serta 154 butir amunisi campuran. Turut diserahkan pula satu butir granat tangan/lontar aktif.
Doddy menjelaskan, senjata-senjata tersebut memiliki asal-usul yang beragam. Sebagian besar merupakan peninggalan konflik sosial di Maluku Utara pada periode 1999–2000, peninggalan Perang Dunia II di kawasan Pulau Morotai, hingga sisa-sisa era kolonial. Namun, ada pula senjata organik yang diselundupkan dari luar negeri.
"Sebagian merupakan senjata organik yang masuk melalui jalur perbatasan, termasuk dari Filipina," ujar Doddy.
Dia memetakan bahwa letak geografis Maluku Utara yang berada di lintasan laut Filipina Indonesia membuat wilayah perairan Halmahera Utara khususnya Galela dan Tobelo sangat rawan menjadi jalur perlintasan penyelundupan senjata api ilegal. Senjata senjata aktif ini berpotensi memicu konflik sosial jika jatuh ke tangan yang salah.
Menurut Doddy, terbukanya kesadaran masyarakat untuk menyerahkan senjata yang telah disimpan selama puluhan tahun merupakan buah dari pendekatan persuasif dan teritorial. Salah satu program yang dinilai berhasil membangun kepercayaan warga adalah penyediaan akses air bersih di desa-desa terpencil.
"Kami berterima kasih kepada seluruh elemen masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, serta para Raja dan Sultan yang bersatu menjaga Maluku Utara. Kepercayaan masyarakat adalah modal terbesar kami," kata Doddy.
Kedepan, Korem 152/Baabullah bersama jajaran Polda Maluku Utara, Kejaksaan Tinggi, dan instansi terkait akan memperketat pengawasan di dermaga-dermaga kecil dan perbatasan laut guna mengantisipasi masuknya senjata ilegal. Doddy mengimbau warga yang masih menyimpan senjata atau bahan peledak agar segera menyerahkannya kepada aparat keamanan tanpa rasa takut.(ier)














