TERNATE, OT - Penyerahan puluhan senjata api ilegal oleh warga Maluku Utara kepada TNI tidak hanya menjadi langkah menjaga keamanan kawasan, tetapi juga menyingkap jejak sejarah panjang di wilayah kepulauan tersebut. Di antara 75 pucuk senjata yang diserahkan secara sukarela kepada Kodam XV/Pattimura, terdapat dua unit pistol standar peninggalan era kolonial bertanda VOC tahun 1771.
Selain senjata kuno berusia lebih dari dua abad tersebut, warga juga menyerahkan barang peninggalan Perang Dunia II di Morotai, sisa konflik sosial Maluku Utara 1999–2000, hingga senjata organik yang diselundupkan dari Filipina.
Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XV/Pattimura Mayor Jenderal TNI Doddy Triwinarto memimpin langsung proses penerimaan puluhan senjata dan ribuan amunisi tersebut di Ternate.
"Penyerahan ini menjadi bukti meningkatnya kesadaran masyarakat untuk mendukung upaya menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah Maluku Utara," ujar Mayjen Doddy, Jum'at (2/10/2026) di Ternate.
Berdasarkan inventarisasi TNI, dari total 75 senjata yang diserahkan, sebanyak 15 unit merupakan senjata api standar (organik). Selain dua pistol VOC tahun 1771, jenis senjata standar lainnya meliputi senjata laras panjang tipe FNC, SMR, Bruno, Steyr, Double Barrel, pistol FN, Revolver, serta pistol pelontar gas air mata.
Sementara itu, 60 unit sisanya merupakan senjata buatan warga atau rakitan, yang terdiri dari 41 unit laras panjang dan 19 unit pistol rakitan.
Tak hanya senjata api, masyarakat juga menyerahkan 1.069 butir amunisi aktif terdiri dari 914 butir kaliber 5,56 mm dan 154 butir amunisi campuranserta satu butir granat tangan/lontar.
Doddy menyoroti tingginya potensi pemicu konflik sosial jika senjata-senjata aktif tersebut tetap beredar di tangan sipil. Apalagi, posisi geografis Maluku Utara berada di perlintasan laut internasional Indonesia–Filipina yang rentan menjadi jalur penyelundupan senjata ilegal, terutama di kawasan perairan Galela dan Tobelo, Halmahera Utara.
Menurut Doddy, keberhasilan mengajak warga menyerahkan senjata yang telah disimpan bertahun-tahun tak lepas dari pendekatan teritorial yang humanis. TNI mengedepankan dialog, pendekatan persuasif, serta program sosial kemasyarakatan seperti pembangunan fasilitas air bersih di pemukiman warga.
"Kami berterima kasih kepada seluruh elemen masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, para Raja dan Sultan yang bersatu menjaga Maluku Utara. Kepercayaan masyarakat adalah modal terbesar kami," pungkas Doddy.(ier)














