TERNATE, OT - Pasca bencana banjir yang melanda sejumlah Kecamatan di Kabupaten Halmahera Barat (Halbar), komunitas Bajalan Kaki (Bajaka) bersama Pers Liputan Kota (Pelita) langsung menggalang bantuan kemanusiaan untuk para korban bencana.
Penggalangan bantuan kemanusiaan yang digagas Bajaka dan Pers Kota merupakan wujud nyata solidaritas dan rasa kemanusiaan terhadap warga korban banjir di beberapa wilayah Halbar.
Ketua Presidium Bajaka, Thamrin Marsaoly dalam keterangannya menyampaikan, melihat kondisi rill di lapangan, warga korban bencana banjir khususnya di wilayah Kecamatan Ibu, bantuan yang dibutuhkan berupa pakaian layak pakai, selimut, kasur, perlengkaoan bayi, popok, pembalut wanita dan kebutuhan lainnya.
"Kami mendapat informasi, warga di Kecamatan Ibu sangat membutuhkan pakaian layak pakai, selimut, kasur atau tikar, perlengkapan bayi termasuk pokok, kemudian pembalut wanita dan kebutuhan lainnya," terang Thamrin.
Komunitas Bajaka dan Pers Liputan Kota (Pelita) telah membuka posko bantuan korban banjir Halbar dalam bentuk barang, "jadi kami tidak menerima bantuan berupa uang tunai, kami hanya mengumpulkan bantuan berupa barang terutama pakaian layak pakai, perlengkapan bayi, selimut, kasur dan kebutuhan lain, termasuk pembalut wanita," ujar Thamrin.
Untuk warga Ternate yang akan menyalurkan bantuan, bisa mendatangi kantor Bappelitbangda Kota Ternate dan kantor Wali Kota Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan (Humas). "Kami membuka dua posko sebagai pusat distribusi, yaitu di kantor Bappelitbangda dan kantor Wali Kota Bagian Humas," ujar Thamrin.
Dia mengajak warga Ternate untuk bersama-sama membangun solidaritas membantu warga di Halbar yang terdampak bencana.
"Kami mengajak warga Ternate untuk bersama-sama saling bahu-membahu kita bantu saudara-saudara kita yang mengalami musibah di Halbar," ajaknya.

Sementara itu, Ketua Pers Liputan Kota (Pelita) Ramlan Harun dalam keterangannya menuturkan, penggalangan bantuan kemanusiaan bagi korban bencana banjir di Halbar, merupakan wujud kepedulian rekan-rekan pers yang bersinergi dengan komunitas Bajaka.
Penggalangan bantuan kemanusiaan yang diinisiasi Pelita dan komunitas Bajaka dibuka setiap hari kerja dari jam 08:00 sampai dengan pukul 16:00 WIT, "warga bisa datang langsung ke posko di kantor Bappelitbangda dan kantor Wali Kota di Bagian Humas," tutur Ramlan.
Dia juga mengajak seluruh warga Ternate untuk bersama-sama membantu warga Halbar yang terdampak bencana banjir sebagai wujud rasa empati dan solidaritas.
"Kami mengajak semua pihak untuk bersam-sama membangun solidaritas dan rasa kemanusiaan dengan memberi bantuan yang dibutuhkan warga Halbar yang sedang bersusah karena bencana banjir," ajak Ramlan seraya mengingatkan bantuan yang diterima hanya berupa barang kebutuhan urgen.
"Kami tidak menerima bantuan dalam bentuk uang tunai," tegasnya.
Sebelumnya, sejumlah wilayah di Kabupaten Halmahera Barat (Halbar) Maluku Utara, mengalami bencana banjir dan tanah longsor.
Bencana dipicu tingginya curah hujan di wilayah tersebut selama beberapa hari. Puncaknya terjadi pada tanggal 7 Januari 2026 dinihari.
Berdasarkan data BPBD Provinsi Maluku Utara, wilayah terdampak banjir tetsebar di 9 Desa pada 5 Kecamatan dengan rincian Kecamatan Ibu (Desa Gamlamo, Tongute Ternate, Tongute Ternate Asal, dan Gamici), Kecamatan Sahu Timur (Desa Gamoneng), Kecamatan Tabaru (Desa Duomo dan Goin), Kecamatan Ibu Selatan (Desa Talaga), serta Kecamatan Loloda (Desa Soasio).
Dalam musibah ini, dilaporkan dua orang meninggal dunia di Desa Soasio, Kecamatan Loloda. Selain itu, sebanyak 726 kepala keluarga atau sekitar 3.444 jiwa terdampak langsung. Sekitar 1.500 jiwa terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman, sementara ini menumpang di rumah warga yang tidak terdampak, sekolah, serta balai desa.
Kerugian materiil akibat banjir cukup besar. Tercatat 726 unit rumah terdampak dengan rincian 34 unit rumah rusak berat, 3 unit rumah rusak sedang, dan 286 unit rumah rusak ringan. Selain itu, satu unit ruko dilaporkan mengalami kerusakan berat. Kondisi ini semakin memperberat beban masyarakat yang harus kehilangan tempat tinggal dan harta benda akibat bencana.
(fight)










