Home / Opini

Raport Merah ’’Torang Samua’’

Oleh: Muhammad Kasim Faisal
23 Januari 2024
Muhammad Kasim Faisal

Dewasa ini, Indonesia diterpa dengan isu-isu yang sering kita ketahui dan alami bersama. Dimana isu kotemporer melibatkan sebagian besar generasi yang memiliki integritas pengetahuan serta kematangan intelektual secara konsepsional maupun dalam merealisasikan corak berpikir ke kalangan masyarakat. Miringnya isu nasional merembet hingga pada pelosok daerah yang ada di Indonesia, baik pada system demokrasi sekarang ini sedang tidak baik-baik saja, inkonstitusional kebijakan pengadilan tertinggi Negara, ketidak netralnya lembaga yang mengayomi dan pelaksana hukum terhadap masyarakat, desintegrasi nasional sampai pada pencaplokan kemerdekaan berpikir dan berbicara.

Generasi intelektual didalalamnya terdapat masyarakat, telah memiliki daya pikir kritis guna bisa mengimbangi setiap permasalahan yang timbul secara kontinyu serta merubah pola interaksi sosial. Perkembangan nilai kritis oleh kalangan masyarakat intelektual kurun waktu dewasa ini mengalami penurunan hingga hampir pasa zona degradasi bahkan sering diasumsikan “negative” oleh kalangan masyarkat yang belum memahami sesuatu secara metodologis. Yang menjadi pertanyaan mendasar yakni; kenapa nilai kritis agen of social semakin sempit? Kenapa setiap tindakan yang ditindaki harus mengharapkan “nilai”? Mengapa sehingga sebagian besar generasi intelektual lebih berpihak kepada kepentingan korporasi ketimbang kepentingan masyarakat? Dan masih banyak lagi harus kita perspektifkan bersama secara subjektif.

Halmahera selatan merupakan suatu wilayah didalamnya terdapat berbagai macam suku, adat, agama hingga pada pola pikir sosial masyarakat yang beragam, sesuai dengan latar belakang kehidupan kelompok ataupun etnis yang hidup berdampingan. Sebagai bentuk dari symbol keberagaman sosial, pemerintah daerah menghadirkan suatu ekowisata kebudayaan yang terletak dilokasi kebun karet sebagai bentuk eksistensi dari pluralisme dan toleransi yang baik.

Dibalik simbolik keberagaman yang luar biasa itu, terdapat sedikit coretan sejarah yang kelabu dan disaksikan secara bisu serta direkam oleh berbagai jenis rumah adat dan tumbuh suburnya pohom karet terhadap kemorosotan atau “tergadaikan” eksistensi dan esensial generasi intelektual yang mengatasnamakan agen perubahan masyarakat madani Halmahera selatan.

Kita kembali pada saat tahun 1965-1966, peran generasi intelektual begitu aktif meneriaki dan bergerak solid diatas garis perjuangan demi keberlangsungan masyarakat adil makmur. Begitu juga sejarah mencatat tahun 1998 merupakan sejarah yang puncaknya generasi intelektual mampuh melumpuhkan rezim orde baru dari setiap gagasan dan bobotan pengetahuan tanpa ditunggangi oleh kelompok korporasi ataupun tuhan-tuhan kecil, melainkan ditunggangi kepentingan masyarakat sehingga terbentuknya tatanan demokrasi bebas soluktif dikalangan masyarakat intelektual dan lainya.

Seperti yang telah dikatakan oleh salah seorang tokoh nasional “Kekuatan Terakhir Seorang Pemuda Adalah Idealis” dari sini kita bisa memahami bersama bahwa, sebagai harapan dan estafet dari masyarakat yang menitipkan kepercayaan terhadap generasi intelektual seharusnya selalu mempertahankan idealismenya sampai pada puncak yang ingin dicapai, bukan pada kepentingan pribadi ataupun kelompoknya telah dimana “dia” bernaung.

Sebagai catatan untuk “torang” semua bahwa, idealisme seorang pemuda tidak hanya pada batasan tembok pembatas, bukan hanya sebatas bahu jalan, bukan hanya sebatas lintasan jalan, bukan hanya sebatas bunyi Sound System, bukan hanya sebatas barisan aksi masa, bukan hanya sebatas nyanyian referensi yang dikeluarkan apalagi sampai pada sebatas nasi bungkus dan sebatang rokok serta membenarkan bahkan membantah hasil penelitian ilmiah dengan opini yang sama sekali tidak termetodologis demi kepentingan yang “dicurigai” sehingga idealisme itu bungkam dan hilang tak tau kemana. Sebagai bentuk keprihatinan, idealis dari generasi intelektual dewasa ini mengalami patah kemudi kepercayaan baik pada kalangan masyarakat, birokrasi pemerintahan maupun kalangan intelektual lainya.

Sebagai penutup untuk menjadi nasihat kita bersama, mengutip pendek kata Soe Hok Gie “Lebih Baik di Asingkan Dari Pada Tunduk Terhadap Kemunafikan”

Sekian______ Arahkan Pikiran dan Tindakan Kita Biar Simetris Dalam Bijak

 (penulis)


Reporter: Penulis
Editor: Redaksi

BERITA TERKAIT