"Sejarah sering kali mati karena amnesia kolektif, kecuali jika ada seseorang yang mewakafkan hidupnya untuk menjadi 'penjaga ingatan'"
Kutipan di atas hadir, tatkala membaca kabar duka kepergian Sang Sejarawan Muda Maluku Utara, Irfan Ahmad di group Enrique Maluku.
Ingatan saya pun tertuju pada status facebook almarhum beberapa hari lalu. Ia mengunggah kerbersamaannya dengan Dr. Ridha Ajam, M.Hum, sembari menulis narasi nasehat dari Sang Mantan Rektor tersebut:
"Fan....Ingat saja satu hal sederhana ini. Kehilangan uang masih bisa dicari. Kehilangan jabatan masih bisa dikejar. Tapi kalau sudah kehilangan kepercayaan, itu yang paling susah diperbaiki. Karena orang bisa lupa kesalahan, tapi jarang lupa rasa kecewa karena dibohongi."
Saya pun, menyambar dengan menulis " Sukses Adek Doktor, Sampaikan salam pada beliau !"
"Siap Abang Doktor yang spesial. Tulisan-tulisan Abang mencerahkan, teruslah berbagi pengetahuan untuk orang banyak" Itu jawaban almarhum merespon komentar saya.
Dan inilah, interaksi terakhir saya dengan Doktor Irfan Ahmad, sebelum mendengar kepulangannya malam ini.
Tulisan singkat ini disusun di penghujung malam, sebagai sebuah penghormatan ilmiah atas kontribusi Irfan Ahmad dalam bidang sejarah dan kebudayaan.
Ada orang yang lahir untuk mencatat sejarah, dan ada orang yang lahir untuk menjadi bagian dari sejarah itu sendiri.
Almarhum Irfan Ahmad, sejarawan kebanggaan Universitas Khairun Ternate, adalah perpaduan langka dari keduanya.
Mengapa sosoknya begitu membekas dalam kesadaran publik di Maluku Utara?
Saya mencatat ada tiga alasan utama mengapa kepergiannya adalah sebuah kehilangan besar bagi narasi intelektual kita:
Pertama : Melawan Amnesia Sejarah
Di tengah deru modernitas yang sering kali membuat kita lupa akan akar, Irfan Ahmad hadir sebagai "pengingat".
Ia tidak ingin masyarakat Ternate dan Maluku Kie Raha hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri.
Baginya, sejarah bukan sekadar "artefak" bisu atau angka tahun yang kusam. Sejarah adalah energi.
Ia menggali kembali kejayaan Kesultanan Ternate bukan untuk romantisme belaka, melainkan untuk membangun harga diri bangsa yang pernah menjadi pusat gravitasi perdagangan dunia.
Kedua, Intelektual yang Membumi
Kita sering menjumpai pakar yang hanya nyaman di balik meja perpustakaan atau di podium seminar yang kaku.
Irfan Ahmad berbeda. Ia adalah tipe intelektual yang "basah" dengan realitas sosial. Ia bisa berdebat sengit tentang naskah kolonial di ruang kelas, namun di saat yang sama, ia adalah teman diskusi yang hangat di kedai kopi.
Ia meruntuhkan dinding pemisah antara akademisi dan warga biasa. Ilmu baginya adalah milik publik, bukan milik menara gading.
Ketiga: Warisan Literasi: Hidup Setelah Mati
Dalam sebuah kutipan yang sering saya renungkan: "Tubuh boleh terkubur, tapi gagasan harus terus berkelana."
Irfan Ahmad memahami ini dengan sangat baik. Melalui tulisan-tulisannya, ia telah menitipkan "DNA sejarah" kepada generasi muda.
Ia memastikan bahwa cerita tentang jalur rempah, kedaulatan para Sultan, dan ketangguhan rakyat Maluku Utara tidak akan hilang ditelan zaman.
Ia telah membangun perpustakaan di dalam kepala setiap orang yang pernah mendengar kuliahnya atau membaca esainya.
Lentera yang Tak Padam
Akhirnya, Kita kehilangan fisiknya, tapi kita tidak kehilangan arahnya. Irfan Ahmad telah meletakkan fondasi yang kokoh. Tugas kita sekarang adalah meneruskan kegelisahan intelektualnya.
Menjaga Ternate tetap menjadi "titik temu" peradaban, sebagaimana yang selalu ia mimpikan.
Selamat jalan, "Sang Penjaga Ingatan."
Di gerbang sejarah yang abadi, namamu telah tertulis dengan tinta emas.
Terima kasih telah "mencintai sejarah kami lebih dari dirimu sendiri."
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un..Lahu al-Fatihah,
Amiin 🙏
Lembah Cinere, 8 April 2026
Pukul : 23.55(penulis)


















