Home / Opini

Jurnalis Antara Butuh Dan Musuh

Alfajri A. Rahman/Junalis
25 Februari 2025

"Jurnalis adalah pembangkit semangat, pembuat kesadaran, dan penuntun masa depan." - Katherine Anne Porter

Februari masih dalam suasan Hari Pers Nasional (HPN) bagi hari perayaran jurnalis. Ini juga bagian dari petaka yang melimpah para pekerja Junalis dilapangan bahkan ada contoh ada wartawan yang dianiyaya akibat pemberitaan dan ada juga kerja wartawan selalu dihalanagi serta menghebokan wartawan juga mengalami pengoroyokan dan pemukulan secara terang oleh pimpinan atau pejabat tinggi di daerah.

Memang kerja kita tidak sehebat, para pekerja ditambang, kantoran, pengusaha, kuli bangun masih banyak lagi. Namun pekerja sebagai jurnalis adalah pekerjaan yang sangat mulia. Sebab kami setiap detik, menit selalu memberikan informasi ke publi dan masyarakat. Tapi perlakukan sebagian banyak pemangaku kepentingan beranggapan kerja junalis hanya sebagai jempolan belaka dan memandang kami hanya  menggunakan kacamata kuda. Ini yang harus diluruskan sebagai cara pandang kita terhadap kerja jurnalis.

maka kerja jurnalis akan memiliki resiko yang lebih besar karena pengetahuan yang dihadirkannya akan menerpa lebih banyak orang sehingga mampu berfungsi sebagai kontrol sosial. Sebabnya, banyak penguasa dan pemangku kepentingan menganggap jurnalis adalah sosok yang membahayakan terutama mereka yang bersifat otoriter dan ingin terus mempertahankan kekuasaannya.

Trend negatif  kekerasan wartawan di Malut tidak lagi menjadi rahasia umum, 2025 ini sudah terjadi tiga orang wartwan di pukul serta intimitasi seperti Haltim ada staf desa memukul wartawan ujung pelaku meminta maaf. Sementara di Ternate juga mengalami hal yang sama, demo mahasiswa, pada saat meliput dua wartawan ikuti di serang oleh oknum anggota SatpolPP sehingga  kedua wartawan menjadi korban, masalah sudah dilaporkan ke kepolisian semogga kasus segera di proses. Bahkan,  menimbulkan banyak kritikan yang dialamtkan kepada wali kota Ternate sebagai nahkoda baru di 100 hari kerja.

Wacana tentang kekerasan terhadap jurnalis, tentunya akan menyadarkan kita bahwa dibalik berita-berita penting yang kita baca, lihat atau dengar terdapat aktor-aktor yang memiliki resiko untuk mewujudkannya. Saya merujuk pada pemikiran Kant, kerja jurnalis adalah sebuah profesi yang berkaitan dengan upaya memeriksa beragam pengetahuan yang akan dihadirkan ke masyarakat umum. Pengetahuan bukan sesuatu yang diperoleh secara dogmatis tapi melalui pencarian dan proses kritisisme yang didasarkan pada akal budi manusia (Hardiman, 2011; Kant, 2021).    

Sebab kekerasan yang sering dilakukan oleh aparat penegak hukum baik dilakukan oleh TNI, Polisi, satpol PP atau aparat pemerintah. Perlu juga mendorogn secara bersama sehingga maslah jangan terulang kembali. Kalau kita membaca MoU dewan pers dan stakeholder terkait sangat jelas tertera baik jurnalis dan narasumber yang tidak mengikat. Lawat tulisan ini saya ingin menyampaikan ke publik kerja jurnalis sangat bermanfaat apalagi sehingga jangan selalu memandang jurnalis adalah sampah atau ring tinju serta alat memuaskan pukulan.

 (penulis)


Reporter: Penulis

BERITA TERKAIT