Home / Nusantara

NHM Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Karhutla Lewat Respons Terpadu dan Berlapis

02 Oktober 2026
Tim Emergency Response Team (ERT) PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) bersiap melakukan penanganan karhutla dalam simulasi tanggap darurat di Halmahera Utara. NHM menerapkan sistem mitigasi berlapis dan pemantauan udara menggunakan drone untuk mengantisipasi potensi karhutla selama musim kemarau. (Dok. PT NHM)

HALUT, OT - Memasuki musim kemarau dengan potensi peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) memperkuat kesiapsiagaan di sekitar area operasional tambangnya di Halmahera Utara. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi potensi ancaman terhadap keselamatan kerja, kelestarian lingkungan, kesehatan warga, hingga kelangsungan operasional perusahaan.

HSE System Specialist NHM, Andri Prasetyo, mengungkapkan bahwa penanganan karhutla di kawasan tambang memiliki tantangan tersendiri. Karakteristik wilayah yang luas, cuaca terik di siang hari, keterbatasan akses ke titik api, serta laju penyebaran api yang cepat menuntut pendekatan yang sistematis.

"Karhutla tidak bisa dipandang hanya sebagai kebakaran biasa. Dalam konteks operasional tambang, dampaknya bisa berantai, mulai dari asap dan menurunnya visibilitas, meningkatnya risiko keselamatan, terganggunya aktivitas kerja, sampai potensi penghentian pekerjaan. Karena itu, kami menyiapkan respons yang terstruktur," ujar Andri.

Untuk menekan risiko tersebut, NHM mengombinasikan strategi preventif (pencegahan) dan reaktif:

Upaya Preventif:

Membangun dan memelihara buffer zone atau fire break di area yang berbatasan langsung dengan hutan rawan terbakar.

Membersihkan vegetasi kering dan material mudah terbakar secara berkala di area kritis.

Melakukan pemantauan hotspot dan kondisi cuaca secara rutin untuk deteksi dini.

Pemetaan area rawan berbasis histori kejadian, analisis kondisi vegetasi, dan penyiapan jalur armada pemadam serta sumber air.

Menggiatkan patroli berkala di periode risiko tinggi serta menyosialisasikan pencegahan kebakaran kepada pekerja dan warga sekitar.

Upaya Reaktif dan Struktur Komando Tanggap Darurat:

Struktur Terintegrasi: Penanganan di lapangan dipimpin oleh Incident Commander dengan dukungan Command Center sebagai pusat kendali dan informasi yang dipantau harian.

Deteksi Dini: Tim Drone Security diterjunkan sebagai mata awal untuk mendeteksi titik api di lokasi yang sulit dijangkau.

Sistem Mitigasi Berlapis:

Lapisan Pertama (First Layer): Tim Emergency Response Team (ERT) sebagai unit utama.

Lapisan Kedua (Second Layer): ERT Volunteer, Fire Warden, dan Fire Team dari departemen terkait.

Lapisan Ketiga (Third Layer): Dukungan sumber daya internal lintas departemen (HSE, Environment, Operation, Maintenance, Security, Civil, Klinik, Community Relations, hingga Logistik).

Captain ERT NHM, Hendrick Lesa, menegaskan bahwa keselamatan personel tetap menjadi prioritas saat respons darurat.

"Respons terhadap karhutla harus cepat, tetapi tetap aman. ERT tidak langsung masuk untuk memadamkan api begitu saja, melainkan melakukan kaji cepat (assessment) terlebih dahulu agar tindakan yang diambil tidak justru menempatkan personel dalam kondisi berbahaya," kata Hendrick.

Selain pembenahan internal, NHM berkoordinasi secara berkala dengan pihak eksternal seperti kepolisian setempat, Dinas Kehutanan, Dinas Lingkungan Hidup, serta Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Maluku Utara guna memastikan langkah penanganan dan penyampaian informasi berjalan transparan serta terukur.

Melalui pendekatan terencana dan kolaboratif ini, NHM menargetkan operasional tambang tetap berjalan aman sekaligus memberikan perlindungan maksimal bagi pekerja, masyarakat, dan ekosistem di sekitar area tambang.(ier)


Reporter: Irfansyah

BERITA TERKAIT