Home / Berita / Nasional
22 Mei 2020

Kasus Positif Covid-19 Diprediksi Terus Meningkat, Ini Rekomendasi LSM Rorano ke Pemkot Ternate

M. Asghar Saleh

TERNATE, OT- Lembaga Swadaya Masyarakat (SLM) Rorano Provinsi Maluku Utara (Malut), memprediksi kasus positif Covid-19 di Kota Ternate masih akan bertambah, sementara di daerah lain akan mengalami penurunan.

Direktur LSM Rorano Maluku Utara, M. Asghar Saleh menyampaikan, kasus konfirmasi positif terjadi pada 23 Maret 2020  hingga meningkat menjadi 2 kasus sampai 21 April.  Namun sejak 22 April 2020, jumlah kasus positif melonjak jadi 7 lalu naik 10 dan menjadi 20 kasus pada tanggal 30 April. Disisi lain, jumlah sembuh untuk Ternate sepanjang April hanya dua orang.

“Ini menunjukan bahwa penambahan kasus seluruhnya terjadi karena imported case atau adanya carrier yang datang dari luar Ternate. Fakta ini terkonfirmasi dengan banyaknya kluster yang masuk ke Ternate antara lain Doro Londa, Gowa, Bandung dan Temboro,” kata Asghar. 

Memasuki bulan Mei, kata Asghar, trend kasus di Ternate mengalami perubahan yang signifikan. Jumlah OTG terus meningkat jadi 382 orang hingga tanggal 15 Mei. Demikian juga dengan ODP yang relatif konstan pada angka 95 orang. Kenaikan ini terjadi karena meningkatnya hasil tracking dari kontak positif.

“Apalagi di Ternate sudah ada kluster lokal yakni Akehuda dengan 8 kasus yang merupakan transmisi lokal. Angka PDP juga relatif dengan jumlah tertinggi pada tanggal 12 Mei sebanyak 19 orang,” jelasnya.

Jika dikomparasikan dengan jumlah kasus positif, maka kenaikan sepanjang bulan Mei sangat eksponensial. Dari 20 kasus positif di akhir bulan April naik lebih dari 100 % menjadi 57 kasus pada tanggal 21 Mei. Naik sebanyak 36 kasus. Mayoritas adalah transmisi lokal. Ada puluhan orang yang reaktif rapid test yang belum menjalani pemeriksaan swab test. Ada juga satu kematian di Ternate yang terkonfirmasi positif Covid19. Sedangkan kasus yang dinyatakan sembuh sebanyak 6 orang.

“Jika situasi ini tidak disertai tindakan nyata sesuai protocol kesehatan yang sudah direkomendasikan secara nasional, terutama melihat maraknya pasar dan mall jelang Lebaran serta tradisi Lebaran yang saling mengunjungi, maka besar kemungkinan jumlah kasus di Ternate bisa bertambah," ujar mantan Ketua Komisi III DPRD Kota Ternate ini.

Apalagi dalam seminggu terakhir, social distancing, physical distancing dan pemakaian masker mengalami penurunan justru saat transmisi lokal terjadi. Rorano berharap, ada tindakan serius. Bukan menunggu karena kondisinya darurat.

Sudah saatnya dibuat zonasi pengamanan untuk kecamatan yang belum ada kasus seperti Ternate Barat, Pulau Ternate, Moti, Hiri dan Batang Dua. Perketat penjagaan di pintu masuk batas wilayah. Tingkatkan skrining tanpa kecuali untuk aktivitas siang hari. Periksa suhu tubuh di pintu masuk. Jika suhu tinggi disarankan dikarantina mandiri dengan pengawasan sebelum dirujuk ke layanan kesehatan jika tak mengalami perubahan. Berlakukan jam malam mulai pukul 22. 00 WIT dimana tak ada lagi lalu lintas kecuali untuk darurat kesehatan. Setiap orang yang masuk baik pendatang maupun penduduk lokal wajib masker,” jelasnya.

Kata Asghar, untuk kelurahan-kelurahan di Ternate Utara, Tengah dan Selatan yang belum ada warganya yang positif bisa "mengisolasi" kelurahan dengan karantina wilayah. Untuk kelurahan yang sudah ada kasus positif. Skemanya bisa dengan pemeriksaan Rapid Test secara massal. Penegakan diagnostik yang berbasis pada hasil tracking harus segera dilakukan.

Karena itu, RORANO merekomendasi kepada Walikota Ternate, DPRD dan Gugus Tugas Kota Ternate untuk melakukan beberapa langkah antara lain :

1.         Pertegas pembatasan sosial dengan penerapan karantina wilayah, penegakan sosial dan physical distancing dan perketat kewajiban menggunakan masker.

2.       Melakukan Rapid Test massal di beberapa kelurahan yang angka kasusnya cenderung bertambah karena transmisi lokal.

3.      Rekrut dan latih tenaga untuk membantu pelaksanaan Rapid Test karena tak mungkin hanya mengandalkan Labkesda Bahari Berkesan. Sebaiknya pelaksanaan Rapid Test disebar ke Puskesmas yang ada.

4.        Rekrut dan latih tenaga survelens. Fakta bahwa satu PKM hanya memiliki satu orang Survelens sangat riskan. Satu Survelens harus mendata sebaran orang di beberapa kelurahan sangat tidak berimbang dan memperlambat percepatan penanganan.

5.        Segera siapkan tempat karantina tambahan karena lonjakan kasus terus meningkat setiap hari. Jika harus isolasi mandiri maka pilihan ini harus disertai kepastian tempat dalam rumah warga yang safety serta di awasi secara rutin agar tidak orang yang diisolasi tidak beraktifitas di luar rumah.

6.        Berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Maluku Utara terkait fasilitas perawatan di RSUD Chasan Boesoerie agar siap saat lonjakan kasus terjadi.

7.        Menyiapkan SOP Pemulasaran jenazah dan personil yang terlatih termasuk menyiapkan lahar pemakaman yang siap digunakan.

8.        Jika ada tindakan real (bukan kebijakan) yang dilakukan untuk menghadapi Pandemi ini, mohon dipublikasikan lewat berbagai media maupun media sosial. Ada banyak kegiatan yang sudah dilakukan tetapi yang sampai ke masyarakat hanya pengunguman kenaikan kasus positif. Model komunikasi publik yang baik akan sangat membantu meningkatkan kepercayaan dan solidaritas masyarakat.

9.        Kami memohon masyarakat agar tetap mengkuti semua protocol kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah selama merayakan Lebaran Idul Fitri 1441 H sehingga penularan virus dapat dibatasi.

(red)


Reporter: Tim