Home / Berita / Nasional
19 Juli 2019

BNPB Kerahkan Dua Unit Helikopter Salurkan Bantuan Korban Bencana Alam di Halsel

Suasana rapat persiapan distribusi bantuan yang dipimpin Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo

TERNATE, OT- Demi kelancaran dan tepat sasaran penyaluran bantuan kepada korban bencana alam di kecamatan Gane, kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), provinsi Maluku Utara (Malut), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menurunkan dua unit Helikopter.

Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo kepada wartawan usai rapat persiapan pendistribusian bantuan di Kota Ternate mengatakan, untuk distribusi bantuan pada pengungsi bencana alam di kabupaten Halsel, BNPB menyiapkan dua unit Helikopter yang akan bergerak Jumat besok.

“Kita harapakan dua unit helicopter ini bisa bekerja keras menyalurkan bantuan ke beberapa desa yang sulit dijangkau dengan transportasi darat maupun laut. Apabila perhitungan kita dua unit Helikopter itu mmasih kurang dan perlu ditambah, maka kita akan tambah,” kata Doni, Kamis (18/7/2019) malam tadi.

Sementara terkait dengan bantuan, lanjut Doni, malam ini ada satu peswat kargo yang membawa bantuan dari Jakarta. Total bantuan itu berupa tenda sebanyak 60 unit, terpal, selimut dan matras yang jumlahnya mencapai ribuan.

“Bantuan itu selain didistribusi menggunakan helikopter, juga akan didistribusi menggunakan kapal milik Basarnas Ternate dan ASDP, karena sudah ada kesanggupan dari Basrnas nantinya mereka yang bawa bantuan ke lokasi,” jelasnya.

Selain itu, malam ini juga pihaknya berusah dapat makanan siap saji berupa roti dan biskuit, yang diperuntukann untuk anak-anak sehingga perut mereka tetap terisi. Sedangkan bantuan berupa beras, pemerintah provinsi yang akan mendistribusi bersamaan dengan bantuan BNPB besok.

Lebih lanjut Doni menambahkan, ada sekitar 2 ribu lebih rumah yang rusak, tapi jumlah pengungsi mencapai 53 ribu jiwa. Hal ini karena masyarakat yang rumahnya tidak rusak tapi mengungsi sebab tidak berani tinggal di rumah.

“Sebagian besar rumah warga berada di pesisir pantai. Maka mereka harus mengungsi karena setelah kejadian gempa pada 14 Juli lalu hingga pagi tadi tadi jam 9, gempa yang terjadi sudah mencapai 100 kali lebih dengan kekkuatan yang lumayan besar. Inilah mereka berbondong-bondong mencari tepat yang lebih tinggi,” ujar mantan Pangdam Pattimura XVI/Ambon ini.

Untuk itu, kondisi ini harus dipertimbangkan karena tidak mungkin masyarakat dipaksa segera pulang ke rumah, sementara secara psikologi mereka belum siapa dan semua pihak tidak tahu kapan gempa akan terjadi. (red)


Reporter: Fauzan Azzam