HALBAR, OT - Dalam upaya menekan angka stunting melalui pemberian ASI Eksklusif, tim pengabdian masyarakat Dosen Jurusan Kebidanan menggelar kegiatan inovatif di Wilayah Kerja Puskesmas Sahu, Kabupaten Halmahera Barat.
Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 9 hingga 10 Mei 2026 ini memfokuskan pada pendampingan kader posyandu dalam melakukan body massage (pijat tubuh) pada ibu menyusui menggunakan bahan lokal.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini mendapat sambutan hangat dari pihak Puskesmas Sahu.
Kepala Puskesmas yang diwakili oleh Kepala Tata Usaha (KTU) Ramlah, menyampaikan apresiasinya atas inisiatif ini.
Menurutnya, keterampilan baru ini sangat dibutuhkan oleh para bidan dan kader untuk membantu ibu nifas di wilayah tersebut.
Pada hari pertama, para kader dibekali dengan pelatihan intensif mengenai teknik pijat yang benar. Jika sebelumnya gerakan pijat ibu nifas dilakukan hanya berdasarkan tradisi turun-temurun, kini mereka diajarkan teknik berdasarkan hasil penelitian medis yang dilakukan secara lembut dan berirama.
Memasuki hari kedua, kegiatan dilanjutkan dengan pendampingan langsung. Para kader turun ke lapangan untuk mengimplementasikan ilmu yang didapat kepada ibu nifas di bawah pengawasan tim pengabdian masyarakat.
Ketua pelaksana kegiatan, Rosida Hi. Saraha, menjelaskan, tujuan utama program ini adalah memastikan produksi ASI ibu maksimal."Penurunan produksi ASI di hari-hari pertama melahirkan sering terjadi karena kurangnya rangsangan hormon prolaktin dan oksitosin. Melalui pijat yang tepat, hormon ini dapat terstimulasi dengan baik," ungkapnya.
Lebih lanjut, dia menekankan bahwa kelancaran ASI adalah kunci utama pencegahan stunting. Dengan nutrisi yang terpenuhi sejak dini, balita di Kecamatan Sahu diharapkan dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Tak hanya memberikan ilmu dan keterampilan, tim pengabdian juga memberikan bantuan berupa paket atau kit pijat kepada para kader posyandu.
Paket ini diharapkan menjadi modal bagi mitra untuk terus memberikanpelayanan pijat kepada ibu menyusui di desa masing-masing secara berkelanjutan.
Antusiasme peserta terlihat jelas sepanjang kegiatan. Para kader mengaku lebih percaya diri untuk membantu ibu-ibu nifas setelah mengetahui teknik pijat yang lebih ilmiah namun tetap menyentuh sisi kearifan lokal.
(fight)







