TERNATE, OT - Wali Kota Ternate, Dr. H. M. Tauhid Soleman, menegaskan pentingnya membangun ekosistem pendidikan yang utuh melalui integrasi Triologi Pendidikan—yang mencakup rumah, sekolah atau pesantren, dan masjid—berbasis kearifan lokal.
Hal tersebut disampaikannya dalam Seminar Peringatan Hari Santri Kota Ternate, Maluku Utara, pada Sabtu (23/10/2026) di aula kantor Wali Kota.
Dalam pemaparannya, Wali Kota Ternate menyatakan, pendidikan yang kuat tidak lahir hanya dari satu ruang tunggal.
Menurutnya anak-anak memerlukan kolaborasi dan keterhubungan yang harmonis dari tiga lingkungan pembentuk karakter utama:
Rumah, berperan sebagai fondasi utama penanaman kasih sayang, keteladanan, adab, disiplin, kebiasaan baik, dan komunikasi harian yang sehat.
Sekolah atau Pesantren: Menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, nalar kritis, keterampilan, akhlak mulia, kemandirian, serta tanggung jawab siswa.
Masjid dan Masyarakat: Berfungsi sebagai simpul penguatan spiritual, persaudaraan, kepedulian sosial, literasi agama, serta pelayanan umat.
Tauhid Soleman juga menekankan empat prinsip utama dalam integrasi ini, yaitu menerapkan satu pesan dengan banyak teladan, mengedepankan kolaborasi alih-alih saling menyalahkan, menyediakan ruang aman dan inklusif bagi anak, serta menjaga keseimbangan antara ilmu pengetahuan, teknologi, agama, dan budaya.
Kearifan lokal dinilai bukan sekadar simbol atau pakaian adat semata, melainkan harus diterjemahkan menjadi perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Di Kota Ternate dan Maluku Utara, nilai-nilai luhur seperti adat se atorang, adab dan penghormatan kepada orang tua serta guru, musyawarah dan gotong royong, identitas maritim penjaga pesisir, hingga pelajaran berharga dari sejarah rempah harus diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran anak.
Pendidikan berbasis kearifan lokal ini dapat diajarkan melalui pengalaman konkret, pelibatan tokoh adat, ulama, sejarawan, serta pemanfaatan sumber-sumber lokal yang ada di tengah masyarakat.
Menghadapi perkembangan era digital, santri dan generasi muda dituntut untuk tetap menjaga kedalaman ilmu dan akhlak sekaligus adaptif terhadap teknologi. Berbagai tantangan seperti distraksi digital, penyebaran informasi palsu atau hoaks, perundungan, hingga jarak antar-generasi harus diatasi melalui penegakkan budaya tabayun, penguatan literasi digital, serta penyediaan jalur pelindungan anak yang aman.
Agar gagasan besar ini tidak berhenti sekadar sebagai wacana seremonial, pemerintah bersama para pemangku kepentingan, orang tua, pendidik, dan pengurus masjid merumuskan Rencana Aksi 90 Hari. Aksi nyata ini dimulai dari pemetaan kebutuhan anak dan potensi lokal pada hari ke-1 hingga ke-15, pelaksanaan program rutin dan proyek kearifan lokal, evaluasi berkala, hingga memastikan keberlanjutan program di setiap kelurahan dan lingkungan pendidikan.
"Rumah menanamkan nilai, sekolah menumbuhkan ilmu, masjid menghidupkan iman dan kepedulian. Ketika ketiganya bersinergi dengan kearifan lokal, kita sedang menyiapkan generasi yang berakar kuat dan mampu melangkah jauh," pungkas Wali Kota Tauhid Soleman menutup materinya.
(fight)




















