ADA yang menarik untuk kita kembali menulis sejarah di Ternate, 26 Agustus 2026. Wali Kota Ternate dengan wajah ceriah dan penuh percaya diri. Kembali mengangkat nama baik Ternate di JKPI, tentunya banyak kendala dihadapi namun piawainya sang birokart bisa mendantangan ribuan orang ke Ternate dangan satu tujuan promosi Ternate. Apakah itu cukup ? jawab belum cukup dengan waktu hampir seminggu. Lewat tulisan singkat penulis ingin menyampaikan dan penulis sangat mengetahui pikirannyan pak wali kota, M Tauhid Soleman. JKPI kembali mengangatkan semangat "Babari" atau kebersamaan antara pemimpin dan rakayat.
Ratusan tahun sebelum istilah globalisasi menjadi kosakata lebih umum, Ternate telah lebih dulu menjadi episentrum peradaban dunia. Pulau yang kecil di bawah naungan kaki Gunung Gamalama adalah sebagai magnet yang menarik para penjelajah di Eropa, pedagang Arab, hingga armada Tiongkok demi satu komoditas bernilai setara emas yakni cengkeh dan pala . Kini, melalui momentum Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI), Ternate memiliki panggung sangat historis untuk merebut kembali narasi besarnya dan mengukuhkan posisi sebagai Kota Rempah di kancah nasional dan internasional.
Penyelenggaraan JKPI di Ternate bukan sekadar ajang berkumpulnya para bupati dan wali kota serta kota berpredikat pusaka se-Nusantara. Lebih dari itu, forum ini adalah sebagai pernyataan sikap dan indentitas. Ternate ingin mengingatkan dunia bahwa jejak navigasi, diplomasi maritim, serta akulturasi budaya global bermula dari tanah ini. Benteng-benteng batuan yang berdiri kokoh, manuskrip kuno Kesultanan, hingga lanskap vegetasi rempah adalah saksi bisu betapa vitalnya peran Ternate dalam membentuk jalinan sejarah dunia.
Namun, menegaskan kembali posisi di panggung dunia menuntut langkah yang lebih jauh dari sekadar romantisme masa lalu. Tantangan terbesar Ternate hari ini adalah mengonversi warisan sejarah (heritage) menjadi kekuatan penawaran modern yang relevan secara global. Status "Kota Rempah" tidak boleh berhenti di JKPI serta sebagai slogan sejarah di buku pelajaran, melainkan harus diwujudkan dalam strategi kebudayaan dan pembangunan yang konkrit agar anak cucu kita bisa bangga dengan nama Ternate.
Langkah strategis ini harus dimulai dari penguatan diplomasi budaya dan pariwisata berbasis pengetahuan (knowledge-based tourism). Dunia internasional saat ini mencari destinasi yang menawarkan narasi otentik dan keberlanjutan. Ternate dapat memposisikan diri sebagai pusat riset sejarah maritim dunia, jalur rempah (Spices Route), serta laboratorium peradaban vulkanik. Integrasi antara nilai sejarah Kesultanan Ternate dan tata kelola cagar budaya yang profesional akan menjadi daya tarik tiada tanding bagi masyarakat global.
Selain itu, narasi Kota Rempah harus dihidupkan kembali di tingkat akar rumput. Anak-anak muda Ternate perlu dilibatkan aktif untuk mengemas identitas lokal ke dalam industri kreatif masa kini, mulai dari kuliner berbasis rempah, kriya, riset sejarah digital, hingga seni pertunjukan modern. Tanpa keterlibatan generasi muda, kebanggaan akan sejarah dunia hanya akan menjadi cerita pengantar tidur.
JKPI Ternate adalah batu loncatan yang sangat krusial. Perhelatan ini harus mampu menembus batas-batas administratif nasional dan memantik perhatian dunia luar. Ternate tidak sedang membangun identitas baru, Ternate hanya sedang menjemput kembali takdir sejarahnya. Dengan komitmen pelestarian yang kuat dan visi global yang jelas, Ternate sangat siap untuk kembali bersinar di panggung dunia bukan lagi sebagai objek perebutan bangsa asing, melainkan sebagai subjek peradaban yang memikat dunia dengan warisan budayanya. Tidak hanya , sebagai bentuk agar Pemerintah Pusat lebih memperhatikan Ternate dan Maluku Utara secara luas. Sebab, para leluruh kita pernah berkorban untuk NKRI.
(penulis)





























