SEKADAU, OT - Dugaan pelayanan buruk dan kelalaian medis kembali mencoreng fasilitas kesehatan masyarakat. Seorang ibu hamil bernama Leni Riyanti, warga Gonis Tekam, diduga ditelantarkan oleh pihak Puskesmas Simpang Empat hingga menyebabkan kondisi bayi yang baru dilahirkannya dalam keadaan kritis dan harus dirawat intensif.
Kejadian bermula pada Senin (10/8/2026) sekitar pukul 24.00 WIB. Leni yang merasakan gejala hendak melahirkan langsung diantar oleh suaminya menuju Puskesmas Simpang Empat untuk mendapatkan pertolongan medis.
Selama masa kehamilannya, Leni tergolong aktif memeriksakan kandungan hingga melakukan Ultrasonografi (USG).
Namun, penanganan yang diterima korban jauh dari kata memadai. Selama 12 jam berselang, tidak ada tindakan berarti yang diberikan oleh tenaga medis setempat kepada pasien.
"Dari jam 12 malam sampai jam 12 siang, Leni belum melahirkan karena tidak dirawat dengan baik, sampai air ketubannya kering," ungkap Sukirwan, mertua korban, saat menghubungi wartawan melalui pesan WhatsApp, Rabu (12/8/2026).
Kondisi kritis tersebut beruntung diketahui oleh dr. Ketut, seorang dokter yang kebetulan sedang berkunjung ke Puskesmas Simpang Empat. Melihat kondisi pasien yang terbiarkan dengan air ketuban yang sudah mengering, dr. Ketut langsung mengambil tindakan tegas dan mempertanyakan pembiaran tersebut.
Dia menyarankan agar Leni segera dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sekadau untuk mendapatkan penanganan medis darurat, baik melalui stimulasi penanganan maupun operasi sesar.
Atas saran tersebut, korban langsung dilarikan ke RSUD Sekadau. Setelah mendapatkan penanganan intensif, Leni akhirnya melahirkan bayinya pada pukul 23.05 WIB. Saat lahir, bayi berjenis kelamin perempuan tersebut sempat menangis. Namun, keesokan harinya kondisi sang bayi memburuk secara drastis.
Berdasarkan konsultasi dengan dokter spesialis anak di RSUD Sekadau, diketahui bahwa bayi tersebut mengalami gangguan pernapasan serius hingga harus dibantu alat pernapasan khusus. Dokter menyatakan ketidakstabilan napas tersebut terjadi akibat keterlambatan penanganan awal saat pasien berada di Puskesmas Simpang Empat.
Meskipun dokter sempat menyarankan agar bayi dirujuk ke rumah sakit di Pontianak, langkah tersebut terpaksa dibatalkan mengingat risiko perjalanan jauh yang terlalu berbahaya bagi keselamatan sang bayi.
"Sebagai langkah terakhir, bayi tersebut kini masuk perawatan intensif di ruang ICU. Saya hanya bisa pasrah menunggu mukjizat dari Yang Maha Kuasa, mudah-mudahan cucu saya selamat," tutur Sukirwan dengan nada sedih.
Pihak keluarga menyampaikan kekecewaan mendalam atas kinerja serta pelayanan Puskesmas Simpang Empat. Sukirwan meminta dinas dan instansi terkait untuk memberikan teguran keras serta sanksi tegas agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan.
"Jangan sampai akibat kelalaian mereka, nyawa orang dipertaruhkan. Beruntung anak saya ketemu dr. Ketut, kalau tidak, mungkin ibunya juga terancam nyawanya," tegas Kirwan.
Sementara itu, saat dikonfirmasi wartawan melalui telepon seluler terkait dugaan penelantaran pasien ini, Kepala Puskesmas Simpang Empat enggan memberikan klarifikasi maupun penjelasan rinci. Pihaknya hanya memberikan respons singkat.
"Terima kasih informasinya," tulis Kepala Puskesmas Simpang Empat singkat melalui pesan yang diterima.
(red)

















