21 Mei 2019

AGK Diantara Dua PDIP Malut

Oleh : Helmi Alhadar, S.Sos., M.Si (Dosen Ilmu Komunikasi UMMU

Helmi Alhadar

KONFLIK persaingan dua elit PDIP Maluku Utara dalam perebutan pengaruh di tubuh partai kemungkinan akan berdampak dengan membawa kesulitan besar bagi pemerintahan AGK ke depan.  Hal ini disebabkan karena AGK berada diantara kedua tokoh yang tengah berseteru ini. 

Kemungkinan konflik ini dimulai dari awal pencalonan AGK-YA yang langsung melalui loby ke pusat dan sepertinya tidak melibatkan Muhammad Sinen yang merupakan ketua DPD PDIP Mauku Utara. Memang pencalonan AGK-YA merupakan usaha dari mereka berdua yang berhasil melobi ke pusat. 

Tapi kemenangan AGK-YA juga tidak dapat mengesampingkan perjuangan dari Muhamad Sinen yang begitu total membela AGK-YA. Dengan begitu, ketersinggungan ketua DPD PDIP itu terlihat saat bereaksi dengan mengusir kampanye anak Al Yasin yang hendak ke Tidore yang disambut dengan pengusiran massa di pelabuhan Rum. 

Hal ini dapat difahami. Sebab, kemunculan Al Yasin yang sebagai Wagub Malut serta merta dapat mengancam posisi Muhammad Sinen yang sedang menakhodai PDIP Malut. Untuk itu, Muhammad Sinen tengah berusha mengusulkan AGK untuk menempatkan orang-orangnya dalam kabinet AGK untuk bisa mengimbangi pengaruh Al Yasin sebagai wagub. 

Sementara AGK yang banyak masalah dibirokrasi pada periode pertama sangat menginginkan orang-orang yang diprcayainya harus duduk di kabinet, apalagi untuk posisi Sekda, dimana AGK sangat bergantung sama Bambang Hermawan. Dengan begitu, terlihat Muhammad Sinen sangat kecewa dan dongkol sama AGK dan mengancam akan menjadi oposisi di parlemen. 

Melihat realitas tersebut, jelas bahwa AGK berada dalam situasi yang sangat sulit serta dilema. Bagaimana tidak, kalau mengikuti sang ketua DPD berarti AGK akan merasa didikte dan ini dapat mengganggu wibawanya sebagai gubernur. Namun apabila melakukan perlawanan maka pemerintahan AGK bisa mengalami rongrongan sehingga akan menimbulkan ketidakefektifan dalam pemerintahannya, bahkan bakal terjadi kegaduhan terus-menerus. Dan kemungkinan kalau pusat sampai mendukung Muhammad Sinen sehingga PDIP beralih menjadi oposisi penuh dan bergabung dengan kelmpok lain di parlemen, maka pemerintahan AGK akan sulit dibayangkan. 

Sementara kalau AGK memilih bergabung sama Al Yasin, kemungkinan akan ada deal diantara mereka. Dimana AGK dikasih kesempatan memimpin pemerintahan dengan kekuasaan yang lebih "besar" yang disokong penuh oleh Al Yasin dengan imbalan pada periode berikut AGK akan mendukung Yasin total, mengingat AGK sudah tidak akan bertarung lagi dan kemungkinan bisa dipasangkan dengan orang dekat atau kepercayaan AGK, apalagi kalau Yasin mendapat dukungan penuh dari DPP PDIP. 

Mengamati realitas tersebut, sepertinya siapapun yang akan dipilih AGK diantara Muhammad Sinen atau Al Yasin, posisi AGK akan tetap "sulit" dalam pemerintahannya karena dia tetap akan bergantung sama pihak lain yang kemungkinan selalu berpotensi melawannya kembali. Dan situasi bisa menjadi lebih rumit seandainya Al Yasin dan Muhammad Sinen bersatu untuk menekan AGK yang posisinya sudah sangat lemah. Itu berarti "kiamat" bagi AGK. 

Untuk itu, dalam situasi seperti ini, AGK perlu bertindak hati-hati dengan kearifan yang dalam. Ini merupakan turbulensi politik yang sangat serius. Paling tidak, ini bisa menjadi warning bagi AGK. Memang kalau melihat ke belakang pencalonan AGK oleh PDIP dan PKPI merupakan bentuk kawin "paksa" mengingat kedua belah pihak memiliki latar belakang idiologi yang sangat berbeda secara mencolok. 

Tak ada kawan atau lawan yang abadi, yang ada cuma kepentingan. Begitulah istilah dalam dunia politik. Jadi, di sinilah kita akan melihat kemampuan AGK untuk melewati cobaan ini dengan kemampuan komunikasi politik yang handal yang selama ini tidak pernah dimunculkan. Tapi sepertinya DPP PDIP akan turun tangan menyelesaikan masalah ini. Namun apapun yang terjadi nanti, mencuatnya masalah ini dipastikan merugikan semua pihak yang bertikai karena sudah merugikan citra diri mereka.(red)