Home / Berita / Politik
12 Maret 2019

Helmi: Di Provinsi Malut Caleg Incumbent Lebih Berpeluang Menang

Helmi Alhadar

TERNATE, OT- Akademisi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (Malut), Helmi Alhadar, menilai di provinsi Maluku Utara (Malut) caleg legislatif lebih berpeluang menang, baik DPR RI, DPRD provinsi maupun kabupaten/kota.

Menurut Helmi, bicara tentang kans untuk memenangkan Pileg tidak pernah ada istlah tidak mungkin. Dalam politik semua hal bisa menjadi mungkin dan relatif, begitupun dengan peluang untuk menduduki kursi DPR RI dan DPRD baik kota, kabupaten maupun provinsi.

Kata Helmi, sekalipun tahun politik masyarakat seringkali dibuat selalu tegang dan kadang menimbulkan konflik di akar rumput, namun peristiwa politik selalu menjadi perhatian masyarakat, apalagi para kontestan caleg akan selalu sibuk kasuk-kusuk untuk mempromosikan dirinya agar dipilih. Seperti pada pileg kali ini yang bersmaan dengan pilpres.

“Sekalipun kekecewaan masyarakat pada anggota dewan mulai dari pusat hingga daerah terus terjadi, namun semangat orang untuk terjun ke dunia politik agar menjadi anggota legislatif tidak pernah berkurang, bahkan bisa jadi bertambah seiiring dengan jmlah partai yang terus bertmbah,” kata Helmi, Selasa (12/3/2019).

Dengan begitu, kata dia, dapat dipastikan bahwa pertarungan untuk menjadi anggota dewan akan tetap sengit dan penuh intrik politik.

Meskipun begitu, menurut Helmi, Malut yang masih kental dengan politik identitas (etnik dan agama) ditambah dengan faktor kekeluargaan dan perteamanan serta pemilih yang cenderung tidak terlalu rasional akan membuat peluang para incumbent baik untuk tingkat pusat (DPR RI) hingga tingkat daerah (DPRD kota, kabupaten sampai provinsi) akan relatif  lebih diuntungkan.

“Hal ini lebih disebabkan karena pemilih kita masih terjebak dalam politik primordialisme dan cenderung tidak melihat kinerja atau tracrecord dari para caleg tersebut, bahkan terkdang orang yang sudah cacatpun masih bisa terpilih kembali karena pemilih kita masih belum kritis atau lebih bersikap pragmatis karena faktor keluarga, kenalan atau sekedar diberi uang atau sembako,” ujar calon doktor Ilmu Komunikasi Unpad Bandung ini.

Selain itu, incumbent lebih memiliki kontestasi elektoral yang lebih tinggi ketimbang caleg pendatang baru, mengingat sosialisasi diri mreka sudah berlangsung lama apalagi sudah beberapa kali memenangkan pertarungan.

Untuk itu, lanjut Helmi, bila caleg pendatang baru ingin mengalahkan incumbent maka yang paling mungkin untuk dilakukan adalah keunikan dirinya dibandingkn dengan yang lainnya, seperti memiliki nilai kejutan atau gagasan besar yang segar untuk mencari perhatian dari masyarakat.

“Kalau tidak maka rasanya akan sangat sulit untuk menghadapi incumbent yang sudah sangat mapan, apalagi incumbnt dari partai besar yang didukung oleh modal finansial yang besar ditmbah dengan popularitasnya,” ungkapnya.

“Tentu ini menjadi tantangan tersendiri bagi caleg pendatang baru yang secara finansial tidak terlalu kuat, tidak memiliki prestasi dalam hal tertentu yang diketahui sebelumnya, sudah begitu datang dari partai kecil atau partai baru,” jelas Helmi.

Jadi, menrut Helmi, para caleg pendatang baru baik untuk DPR RI, provnsi, kabupaten hingga kota harus cerdas mengemas isu untuk melawan kemapanan dari caleg-caleg yang sudah mapan apalagi tidak miliki uang yang besar, jika tidak maka sulit dibayangkan wajah-wajah baru akan muncul kepermukaan.

Sebenarnya, kata Helmi, masyarakat tetap mengharapkan adanya perubahan cara berpolitik di Malut, hanya saja para pendatang baru terkesan belum mampu menunjukan terobosan-terobosa yang menjanjikan untuk adanya sebuah perubhan yang lebih baik.

Untuk itu, Helmi menduga, mayoritas incumnt dan pendatang baru yang memiliki modal besar dengan jaringan keluarga besarnya yang masih akan mendominasi kursi di parlemen, baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah, karena tidak ada hal-hal baru yang ditwarkan oleh pendatang baru. “Jadi waktu yang tidak lama lagi ini harus dimanfaatkan oleh para caleg baru secara maksimal,” tutupnya.(red)


Reporter: Fauzan Azzam