Home / Berita / Nasional
09 November 2018

Kementerian PPA Dorong Percepatan Kesetaraan Gender Di Era Digital

YOGYAKARTA, OT - Perempuan harus mempersiapkan diri dan turut mengambil peran dalam memasuki perubahan industri di era inovasi digital saat ini.

Perkembangan industri era digital menjadi peluang untuk dapat meningkatkan peran dan kapasitas perempuan di berbagai bidang termasuk pembangunan, partisipasi dalam dunia kerja, politik, dan pendidikan.

"Pemeritah Indonesia telah berkomitmen melakukan berbagai upaya dalam rangka meningkatkan kapasitas perempuan dalam pembangunan di semua bidang. Untuk mencapai hal tersebut, tentunya membutuhkan dukungan dari seluruh pihak, termasuk juga perguruan tinggi dan mahasiswa,” kata Menteri Yohana saat menyampaikan Kuliah Umum dengan tema "Gender Equality dalam Era Digital Innovation di Indonesia" kepada mahasiswa Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. 

Sebagaimana press rilis yang diterima redaksi indotimur.com, strategi pengarusutamaan gender (PUG) merupakan salah satu strategi dari tiga strategi pengarusutamaan yang dituangkan dalam RPJMN 2015-2019.

Pemerintah Indonesia melalui Instruksi Presiden No.9 Tahun 2000 tentang pengarusutamaan gender dalam pembangunan nasional, juga telah mengamanatkan kepada seluruh pimpinan Kementerian/Lembaga dan pimpinan daerah termasuk Perguruan Tinggi untuk dapat melaksanakan strategi pengarusutamaan gender dalam pencapaian kesetaraan dan keadilan gender.

Berdasarkan data BPS tahun 2017, angka Index Pembangunan Gender (IPG) tahun 2010 yaitu 89,42 meningkat menjadi 90,96 pada tahun 2017. Sedangkan, untuk Index Pemberdayaan Gender (IDG) yang dilihat dari partisipasi perempuan pada lembaga legislatif dan eksekutif juga mengalami peningkatan dari 68,15 pada tahun 2016 menjadi 71,74 pada tahun 2017.

Sementara itu, angka partisipasi perempuan dalam politik di Indonesia secara keseluruhan baru mencapai 16-17%, dengan angka idealnya yakni minimal 30%.

Pada kesempatan yang sama Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Pengajaran, dan Kemahasiswaan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Djagal Wiseso Marseno menyampaikan, isu perempuan dan kesetaraan gender ini merupakan hal yang sangat menarik dan menjadi fokus perhatian oleh seluruh pihak, termasuk juga kami di UGM.

“Jika melihat dari statistik kemahasiswaan, beberapa fakultas di UGM jumlah mahasiswi lebih dominan di banding mahasiswa. Hal ini menjadi acuan bagi kami untuk terus menjunjung tinggi kesetaraan gender di universitas kami. Karena kami yakin, perempuan dapat berperan lebih dominan di banding laki-laki terutama dalam bidang pembangunan perkonomian. Salah satunya terlihat dari yang sudah dilakukan oleh Fakultas Geografi UGM, kegiatan pemberdayaan perempuan melalui kegiatan positif yang berkontribusi dalam pembangunan dan lingkungan yakni, pengelolaan lingkungan sungai bersama masyarakat,” tambah Prof. Djagal.

Hal senada disampaikan oleh Dekan Fakultas Geografi UGM, Prof. Muh Aris Marfai yang mengatakan saat ini di fakultas geografi sekitar 40% mahasiswa aktifnya merupakan perempuan. Hal ini menjadi gambaran bahwa fakultas geografi UGM sudah konsern akan isu kesetaraan gender.

“Fenomena ini sangat menarik, sebab ilmu geografi itu lebih condong kepada ilmu-ilmu yang persepsinya adalah fisik yang pastinya membutuhkan lebih banyak aktivitas terkait alam dan kunjungan ke lapangan.Tapi ternyata, hal tersebut tidak menyurutkan semangat perempuan untuk ikut aktif berperan disana. Oleh karena itu, pemberdayaan perempuan dalam bidang pembangunan, perekonomian, lingkungan, politik, dan perubahan iklim tidak terlepas dari emansipasi atau peran perempuan,” pungkas Prof. Aris.

"Langkah nyata yang bisa dilakukan perguruan tinggi adalah mendorong kampanye “HeForShe” atau laki-laki untuk perempuan. Sebuah kampanye kesetaraan gender yang bertujuan melibatkan laki-laki sebagai agen perubahan guna mencapai kesetaraan gender dan mengakhiri isu-isu terhadap ketidaksetaraan, dalam penutupnya,

Menteri Yohana mengatakan mahasiswa merupakan penerus masa depan bangsa, yang akan melanjutkan perjuangan kami dalam mewujudkan kesetaraan gender di Indonesia. Semoga setelah mendapatkan pemahaman tentang kondisi perempuan dan tantangan kesetaraan gender, dapat menjadi semangat baru dalam mewujudkan kesetaraan gender di era perkembangan digital ini.

Besar harapan agar mahasiswa dapat memberikan kontribusi nyata yang secara signifikan berpengaruh terhadap percepatan kesetaraan gender di Indonesia. (thy)


Reporter: Ibenk